RSS

Kajian Hermeneutik Puisi “Kucari Jawab” Karya J. E. Tatengkeng

26 Jul

Image

ABSTRAK

Artikel ini berjudul “Mengkaji dan Menganalisis Puisi Kucari Jawab Menggunakan Pendekatan  Hermeneutik”  Judul ini dipilih  dengan berlandaskan atas analisis puisi yang dilakukan melalui pendekatan  hermeneutik. Rumusan masalah dalam analisis ini adalah  bagaimana mengkaji hubungan antara makna dari simbol-simbol yang ada pada teks sastra dengan hal di luar sastra seperti sejarah, kenyataan, dan sebagainya. Suatu karya seni dalam hal ini puisi merupakan kumpulan simbol-simbol (kata-kata) yang memiliki makna di dalamnya sebagai hasil jepretan kejadian-kejadian di luar sastra. Melalui kajian hermeneutik ini diharapkan dapat mengungkap makna dibalik rangkaian simbol-simbol dalam puisi ini.

Berdasarkan hasil penelitian dengan pendekatan hermeneutik, puisi  Kucari Jawab karya J.E. Tatengkeng ditemukan kaitannya antara simbol-simbol yang terdapat dalam puisi tersebut dengan kejadian-kejadian di luar sastra.

1. Pendahuluan

Pemahaman puisi dapat ditinjau dari beberapa aspek. Hal ini tergantung pada isi puisi yang  ingin dibahas. Kehadiran puisi pada umumnya memang untuk dinikmati oleh para pembaca, tetapi kehadiran puisi juga tidak terlepas dari makna simbol-simbol (kata-kata) yang terkandung dalam puisi tersebut serta hubungannya dengan hal-hal atau kejadian-kejadian di luar sastra. Oleh karena itu, puisi perlu ditinjau dari segi hermeneutik atau keterkaitkan antara simbol-simbol yang terkandung dalam sebuah karya sastra dengan hal-hal yang ada di luar sastra.

Memahami atau menganalisis puisi pada hakikatnya adalah membaca kehidupan. Karena puisi dapat mencerminkan suatu corak kehidupan masyarakat pada suatu masa, dan mampu menjelaskan harkat dan martabat manusia secara utuh, serta berisikan masalah kehidupan yang universal. Dalam puisi “Kucari Jawab” karya J.E. Tatengkeng, dimana isi puisi tersebut menjadi objek kajiannyabila dipandang dari unsur hermeneutik, penulis akan mencoba mengkaji puisi tersebut  dilihat dari unsur hermeneutiknya.

2. Landasan Teori

Secara historis hermenika berasal dari mitologi Yunani, yang berasal dari seorang tokoh mitologis yang bernama Hermes yakni seorang utusan yang mempunyai tugas sebagai perantara atau penghubung antara dewa jupiter dengan manusia. Pada intinya ia menyampaikan pesan dari dewa Jupiter kepada manusia. Hermes dilukiskan sebagai seorang yang mempunyai kaki bersayap dan lebih banyak dikenal dengan sebutan Merkurius dalam bahasa latin. Tugas Hermes adalah menginterpretasikan pesan-pesan dari dewa Jupiter di gunung olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh umat manusia. Oleh sebab itulah fungsi Hermes disini sangat penting dan vital sekali karena kalau terjadi kesalahan pemehaman tentang pesan-pesan dewa tersebut akibatnya akan fatal bagi manusia. Hermes harus mampu menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang digunakan oleh penuturnya. Kalau diasosiasikan secara sekilas hermeneutik dengan hermes, menunjukan akhirnya pada tiga unsur yang akhirnya menjadi variabel utama pada kegiatan manusia dalam memahami dan membuat interpretasi terhadap berbagai hal yakni:

  1. Tanda, pesan atau teks yang menjadi sumber atau bahan dalam penafsiran yang diasosiasikan dengan pesan pesan yang dibawa Hermes dari dewa Jupiter di gunung Olimpus tadi.
  2. Perantara atau penafsir (Hermes).
  3. Penyampaian pesan itu oleh sang perantara agar bisa dipahami dan sampai kepada yang menerima.

Hermeneutik menegaskan bahwa manusia Autentik selalu dilihat dalam kontek ruang (Lokus) dan waktu (Tempos) dimana manusia sendiri mengalami dan menghayatinya. untuk memahami dasein (Manusia oautentik), kita tidak bisa lepas dari konteks yang ada, sebab itu kalau dilihat dari luar konteksnya yang nampak ialah manusia semu yang artifesial atau hanya buatan saja. Manusia autentik hanya bisa dimengerti atau dipahami dalam ruang dan waktu yang persis dimana ia berada. dengan kata lain setiap individu selalu tersituasikan dan benar-benar dapat dipahami di dalam situasinya.

Hermenetik menurut pandangan kritik sastra ialah Sebuah metode untuk memahami teks yang diuraikan dan diperuntukkan bagi penelaahan teks karya sastra. Hermenetik cocok untuk membaca karya sastra karena dalam kajian sastra, apa pun bentuknya, berkaitan dengan suatu aktivitas yakni interpretasi (penafsiran). Kegiatan apresiasi sastra dan kritik sastra, pada awal dan akhirnya, bersangkutpaut dengan karya sastra yang harus diinterpretasi dan dimaknai. Semua kegiatan kajian sastra, terutama dalam prosesnya, pasti melibatkan peranan konsep hermeneutik. Oleh karena itu, hermeneutik menjadi hal dan prinsip yang tidak mungkin diabaikan. Atas dasar itulah hermeneutik perlu diperbincangkan secara komprehensif guna memperoleh pemahaman yang memadai. Dalam hubungan ini, mula-mula perlu disadari bahwa interpretasi dan pemaknaan tidak diarahkan pada suatu proses yang hanya menyentuh permukaan karya sastra, tetapi yang mampu “menembus kedalaman makna” yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, interpreter (si penafsir) mesti memiliki wawasan bahasa, sastra, dan budaya yang cukup luas dan mendalam. Berhasil-tidaknya interpreter untuk mencapai taraf interpretasi yang optimal, sangat bergantung pada kecermatan dan ketajaman interpreter itu sendiri. Selain itu, tentu saja dibutuhkan metode pemahaman yang memadai; metode pemahaman yang mendukung merupakan satu syarat yang harus dimiliki interpreter. Dari beberapa alternatif yang ditawarkan para ahli sastra dalam memahami karya sastra, metode pemahaman hermeneutika dapat dipandang sebagai metode yang paling memadai.

Karya sastra dalam pandangan hermeneutik ialah sebagai objek yang perlu di interprestasikan oleh subjek (hermeneutik). Subjek dan objek tersebut adalah term-term yang korelatif atau saling bertransformasi satu sama lain yang sifatnya merupakan hubungan timbal balik. Tanpa adanya subjek, tidak akan objek. Sebuah benda menjadi objek karena kearifan subjek yang menaruh perhatiaan pada subjek itu. Arti atau makna diberikan kepada objek oleh subjek, sesuai dengan pandangan subjek. Hussrel menyatakan bahwa objek dan makna tidak akan pernah terjadi secara serentak atau bersama-sama, sebab pada mulanya objek itu netral. Meskipun arti dan makna muncul sesudah objek atau objek menurunkan maknanya atas dasr situasi objek, semuanya adalah sama saja. Maka dari sinilah karya sastra dipandang sebagai lahan (objek) untuk ditelaah oleh hermeneutic supaya muncul interpretasi pemahaman dalam teks karya satra tersebut.

Bahasa dalam pandangan Hermeneutic sebagai medium yang tanpa batas, yang membawa segala sesuatu yang ada didalamnya, termasuk karya sastra yang menjadi objek kajiaannya. Hermenetik harus bisa bergaul dan berkomunikasi dengan baik dengan bahasa supaya tercipta transformasi di dalamnya terutama dalam membedah teks karya sastra.

3. Pembahasan

Puisi yang akan dikaji dengan menggunakan pendekatan hermeneutik adalah :

Kucari Jawab

Di mata air, di dasar kolam,

kucari jawab teka-teki alam.

 

Di kawan awan kian kemari,

di situ juga jawab kucari.

 

Kepada gunung penjara waktu,

kucari jawab kebenaran tentu.

 

Ke dalam hati, jiwa sendiri,

Kuselam jawab, tidak tercari. . .

 

Ya, Allah yang maha dalam,

Berikanlah jawab teka-teki alam.

                    

O, Tuhan yang maha tinggi,

Kunanti jawab petang dan pagi.

 

Hatiku haus’kan kebenaran,

Berikan jawab di hatiku sekarang. . .

3.1. Biografi Penyair

J.E. Tatengkeng atau lengkapnya Jan Engelbert Tatengkeng adalah penyair Pujangga Baru. Ia biasa dipanggil Oom Jan oleh orang-orang dekatnya, panggilan yang lazim di kalangan masyarakat Sulawesi Utara. Tatengkeng memang merupakan salah satu famili dari propinsi itu. Oom Jan ini dilahirkan di Kolongan, Sangihe, Sulawesi Utara, pada tanggal 19 Oktober 1907.

J.E. Tatengkeng adalah satu-satunya penyair zaman Pujangga Baru yang membawa warna kekristenan dalam karya-karyanya. Hal ini tidaklah ganjil jika ditelusuri latar belakang kehidupannya. Ia adalah putra dari seorang guru Injil yang juga merupakan kepala sekolah zending. Di samping itu, tanah kelahirannya, tempat ia dibesarkan oleh orang tuanya, adalah sebuah pulau kecil di timur laut Sulawesi yang konon masyarakatnya hampir seluruhnya beragama Kristen.

J.E. Tatengkeng memulai pendidikannya di sebuah sekolah Belanda, HIS, di Manganitu. Ia kemudian meneruskannya ke Christelijk Middagkweekscool atau Sekolah Pendidikan Guru Kristen di Bandung, Jawa Barat dan Christelijk Hogere Kweekschool atau Sekolah Menengah Tinggi Pendidikan Guru Kristen di Solo, Jawa Tengah.

Di sekolah-sekolah itulah J.E. Tatengkeng mulai berkenalan dengan kesusastraan Belanda dan gerakan Tachtigers “Angkatan 80-an”, yang kemudian banyak mempengaruhi karya-karyanya. Meskipun banyak dipengaruhi Angkatan 80-an Belanda, J.E. Tatengkeng ternyata juga tidak sependapat dengan Jacques Perk yang mempertaruhkan seni dalai segala-galanya. Dalam sebuah tulisannya, “Penyelidikan dan Pengakuan (1935), Tatengkeng menulis, “Kita tidak boleh menjadikan seni itu Allah. Akan tetapi, sebaliknya, janganlah kita menjadikan seni itu alat semata-mata. Seni harus tinggal seni.”

Bagi Tatengkeng, seni adalah gerakan sukma, “Gerakan sukma yang menjelma ke indah kata! Itulah seni bahasa!,” katanya. Sebagai penyair, J.E. Tatengkeng dikenal sebagai penyair yang dekat dengan alam. Konon, kedekatan Tatengkeng dengan alam itu timbul sebagai akibat kekecewaannya karena tidak dapat menemukan kebenaran di dunia barat yang masih alami.

Meskipun alam merupakan pelariannya dalam usaha menemukan kebenaran, alam baginya tetap merupakan misteri. Di kawanan awan, di warna bunga yang kembang, pada gunung, dan pada bintang, tetap saja Tatengkeng belum merasa berhasil menemukan kebenaran hakiki. Oleh karena itu, setelah jiwanya lelah mencari kebenaran hakiki, ia menjadikan Tuhan sebagai tempatnya berlabuh. Gelombang kehidupan Tatengkeng itu tergambar pada sebagian besar sajak-sajaknya. Tentu saja sajak-sajaknya yang religius itu bernafaskan ke-Kristenan, agama yang dianutnya.

Sejak tahun 1953, J.E. Tatengkeng mulai jarang menulis. Akan tetapi, krativitasnya sebagai penyair tidak pernah hilang meskipun ia bergiat dalam bidang politik dan pemerintahan. Hal itu dibuktikan dengan beberapa sajaknya yang dimuat pada beberapa majalah setelah tahun 1953.

J.E Tatengkeng meninggal pada tanggal 6 Maret 1968 dan dikebumikan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.

3.2. Analisis Hermeneutik

Setiap karya sastra, terutama puisi pasti memiliki makna yang terkandung di balik simbol-simbol (kata-kata) yang digunakan pada puisi tersebut. Dan dari setiap simbol-simbol yang terdapat pada setiap puisi pasti memiliki kejadian atau hal-hal yang melatarbelakangi sehingga karya sastra tersebut dapat tercipta. Hal-hal atau kejadian tersebut biasanya berasal dari luar sastra, seperti sejarah, kenyataan dan sebagainya. Begitu pun yang terjadi pada puisi yang berjudul “Kucari Jawab” karya J.E. Tatengkeng ini.

Pendekatan hermeneutik menghendaki penafsiran, sehingga makna puisi sudah pasti dipengaruhi persepsi pengetahuan dan pengalaman setiap pembaca, faktor lingkungan pembaca, perspektif atau bia dimensi kepentingan pembaca, dan hal-hal lain yang berasal dari faktor ekstrinsik puisi.

Pencarian arti secara heuristik tersebut baru menjelaskan arti kebahasan puisi objek kajian. Makna puisinya harus dicari dengan pembacaan hermeneutik, pembacaan yang diberi tafsiran sesuai dengan tata aturan sastra sebagai sistem semiotik.

Sejak awal membaca puisi “Kucari Jawab” karya J.E. Tatengkeng ini pasti para pembaca langsung menyadari bahwa makna yang terkandung dalam puisi tersebut adalah tentang kisah perjalanan hidup J.E. Tatengekeng dalam upaya mencari jawaban dan kebenaran dalam hidup. Hal ini dapat terlihat dengan cukup jelas karena J.E. Tatengkeng menyampaikannya secara lugas.

Untuk lebih jelasnya, saya akan menganalisis puisi J.E. Tatengkeng ini bait demi bait.

Di mata air, di dasar kolam,

kucari jawab teka-teki alam.

(bait 1)

Pada bait pertama tersebut, Oom Jan mencoba untuk mencari jawab atas teka-teki yang diberikan oleh alam. Oom Jan berpendapat bahwaterdapat kesalahan dalam hidup ini, dan Oom Jan mencoba mencari jawaban untuk sebuah kebenaran dari hidup ini. Alam merupakan simbol dari kehidupan, karena kita hidup di dunia ini tak terlepas dari yang namanya alam. Karena alam memberikan kehidupan itu lah, maka Oom Jan mencoba mencari jawaban dari alam. Berharap alam akan memberikannya jawaban seperti alam memberinya kehidupan. Kemudian di alam, Oom Jan mencoba mencari jawabannya di mata air dan di dasar kolam. Itu karena mata air perlambang sebuah sumber. Ia berharap akan mendapat jawabannya dari sumber tersebut. Sedangkan dasar kolam merupakan hal yang penuh misteri, itu dikarenakan sebuah dasar biasanya menyimpan suatu yang sangat berharga. Seperti contohnya di dasar laut menyimpan harta karun. Oom Jan berharap kalau ia mencari jawabannya sampai ke dasar, pasti akan menemukan sesuatu.

Di kawan awan kian kemari,

di situ juga jawab kucari.

(bait 2)

Setelah Oom Jan mencari sebuah jawaban akan kebenaran hingga ke dasar, Oom Jan juga mencoba mencari jawaban tersebut di angkasa. Ia coba mencarinya di antara awan beserta kawananya (kumpulan awan). Berharap akan menemukan jawabannya di sana. Awan merupakan lambang dari sesuatu yang tinggi, yang sulit digapai. Itu mengapa Oom Jan berusaha mencarinya di tempat yang sulit dicapai orang. Berharap jawabannya berada di sana. Karena biasanya sesuatu yang sulit dicari itu pastilah terdapat di tempat yang sulit dijangkau oleh orang banyak.

Kepada gunung penjara waktu,

kucari jawab kebenaran tentu.

(bait 3)

Setelah mencari di tempat yang paling rendah hingga yang paling tinggi dari alam, Oom Jan masih mencari jawaban atas kebenaran tersebut di tempat yang lain, yakni di gunung. Gunung merupakan simbol dari sebuah misteri. Karena setiap gunung pasti memiliki misterinya masing-masing. Contohnya saja tentang keluarnya lahar panas dari dalam perut gunung yang selama ini dikira sudah tidak aktif lagi. tentu saja itu merupakan sebuah misteri yang besar. Belum lagi misteri-misteri lainnya yang terdapat pada gunung. Selain itu gunung juga ibarat sebagai penjara waktu. Hal ini karena pada saat di gunung, manusia bahkan tidak mengetahui sudah berapa lama yang dihabiskannya di sana. Seolah-olah waktu tak terasa berlalu. Seperti orang yang bersemedi di gunung. Walaupun sudah bersemedi selama bertahun-tahun, namun karena pergi ke gunung diibaratkan sebagai bersatu dengan alam, maka berapa banyak waktu yang dihabiskan pun tidak terasa. Maka dari itu Oom Jan mencoba mencarinya ke gunung. Berharap di tempat yang memiliki banyak misteri, terdapat jawaban akan sebuah kebenaran.

Ke dalam hati, jiwa sendiri,

Kuselam jawab, tidak tercari. . .

(bait 4)

Setelah menyusuri tempat yang paling dasar, tempat yang paling tinggi, hingga tempat yang penuh dengan misteri, Oom Jan masih belum dapat menemukan jawaban yang dicarinya. Kemudian Oom Jan mencoba mencarinya ke dalam hati dan jiwanya sendiri. Hati dan jiwa perlambang dari hidup manusia itu sendiri. Karena biasanya hal yang tak dapat ditemukan di manapun, justru sebenarnya terletak pada diri manusia itu sendiri, namun terkadang manusia tidak menyadarinya. Akhirnya Oom Jan pun merenung, mencoba menyelami (memahami) dirinya sendiri. Dalam diri sendiri lah biasanya harta atau sesuatu yang selalu dicari-cari oleh kita terpendam. Karena sebenarnya hati dan jiwa kita telah diberikan kekayaan yang berlimpah oleh Sang Pencipta. Namun sayang, dalam hati dan jiwanya sendiri pun Oom Jan masih belum menemukan jawabannya.

Ya, Allah yang maha dalam,

Berikanlah jawab teka-teki alam.

(bait 5)

Setelah Oom Jan berusaha mencari jawaban ke berbagai pelosok tempat dan tak mendapatkan hasil apa pun. Maka Oom Jan tersadar bahwa tak ada yang tempat yang lebih baik untuk mencari sebuah kebenaran, selain kembali meminta kepada Sang Pencipta. Karena Allah adalah zat yang maha mengetahui segalanya. Allah yang maha dalam melambangkan bahwa Allah adalah zat yang sebenar-benarnya mengetahui kedalaman apa pun. Kedalaman akan hati manusia, kedalaman akan jawaban, dan kedalaman akan kebenaran.         

O, Tuhan yang maha tinggi,

Kunanti jawab petang dan pagi.

(bait 6)

Selain itu Allah juga merupakan zat yang maha tinggi. Allah dapat mengetahui dan menguasai segala hal yang terjadi di dunia ini. Tinggi memiliki lambang yang sangat banyak. Tinggi bisa perlambang akan kekuasaan, perlambang pemilik, perlambang pencipta, perlambang yang paling agung. Maka dari itu Oom Jan selalu menanti jawaban dari Allah yang maha tinggi, yang maha menguasai. Oom Jan selalu menunggu setiap hari, baik itu saat petang maupun pagi.

Hatiku haus’kan kebenaran,

Berikan jawab di hatiku sekarang. . .

(bait 7)

Pada bait ketujuh ini, Oom Jan semakin ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Haus merupakan perlambang dari sesuatu yang sudah tidak tahan lagi. Harus segera diberikan sesuatu pada rasa haus tersebut agar tidak risau dan gundah gulana lagi. dalam hal ini Oom Jan meminta sebuah kebenaran agar hatinya tidak risau dan gundah gulana lagi. Oom Jan sudah tidak sabar untuk meminta Allah memberikan jawabannya sejarang juga agar hatinya tentram.

4. Kesimpulan

          Melalui pendekatan hermeneutik, penulis dapat memahami makna dari puisi “Kucari Jawab” karya J.E. Tatengkeng  yang merupakan  kisah perjalanan J.E. Tatengkeng dalam upaya mencari sebuah jawaban akan kebenaran dalam hidup ini. Dalam puisi ini pula terlihat bahwa sebuah kata dapat memiliki makna yang beragam. Makna yang dapat menjadi lambang bagi sesuatu yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Esten, Mursal. 1995. Memahami Puisi. Bandung: Angkasa.

http://filsafat.kompasiana.com/2011/06/20/teori-hermeneutik-dalam-karya-sastra/

http://asiaaudiovisualrb09susilo.wordpress.com/biografi-penyair-indonesia/biografi-j-e-tatengkeng/

Tim Estetika Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta. 2008. Estetika Sastra, Seni dan Budaya. Jakarta: UNJ Press.

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2013 in Research

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 211 other followers

%d bloggers like this: