RSS

Perjalanan

20 Aug

Image

Tidak hanya siang hari, udara malam Jakarta juga tidak kalah panasnya. Aku tidak mengerti mengapa Jakarta begitu panas. Baik itu udaranya, suasananya, bahkan kehidupannya, semua terasa begitu panas. Sudah cukup jauh aku menyusuri jalan Pramuka ini yang telah hampir tiap hari kulintasi tanpa jenuh bagiku. Tapi aku tidak tahu apakah jalanan ini jenuh terhadapku. Mungkin saja iya, karena menganggapku hanya satu dari banyak orang yang memanfaatkan jasanya saja. Aku lihat masih banyak kendaraan yang berlalu-lalang meski hari sudah larut, “apakah orang-orang di Jakarta sangat gila bekerja hingga pulang selarut ini?” tanyaku dalam hati. “kalau memang begitu, bagaimana ya nasib keluarganya yang menantikan kehadirannya di rumah?” sementara itu pohon-pohon sudah mengangguk-anggukkan kepalanya, mungkin mereka sudah mulai mengantuk. Lelah mengahadapi kehidupan Jakarta yang semakin menggila.

Jakarta memang kota yang tidak pernah tidur. Selalu saja ada kegiatan yang dilakukan penduduknya entah kapan dan di jam berapa. Angkutan-angkutan umum pun sudah banyak yang bertugas 24 jam. Dari mulai taksi, ojek, bajaj, kopaja, metro mini, bahkan aku dengar-dengar kabar, katanya Bus Trans Jakarta pun akan aktif 24 jam. Hal ini tentu memudahkan masyarakat yang beraktifitas di malam hari. Jadi, kapan pun mau pulang atau pergi, angkutan umum tersebut bersedia mengantar selama orang yang diantar memiliki uang. Kalau kata temanku, “hidup di Jakarta yang penting punya duit bro. selama lo punya duit, semua aman.” Tapi menurutku hal ini juga berbahaya karena tindak kejahatan di malam hari akan semakin meningkat.

Aku sebenarnya bisa saja pulang ke rumah menggunakan kendaraan umum, tapi aku lebih memilih untuk berjalan kaki. Bukan karena kehabisan uang atau sedang menabung untuk beli sepatu, tapi berjalan kaki terasa lebih menyenangkan bagiku. Aku sangat suka menikmati perjalanan. Kalau naik kendaraan, akan lebih cepat sampai tujuan, sedangkan aku belum sempat menikmati perjalanan ini. Memandangi bulan yang tampak sendu di atas sana, membuatku terasa lebih dekat dengannya, memahami apa yang sedang dipikirkannya, walaupun itu hanya dugaanku saja. Tapi setidaknya membuat perasaanku lebih nyaman, karena telah berbagi waktu dengannya. Memberi salam pada angin yang berhembus juga salah satu bagian yang kusukai dari sebuah perjalanan. Angin selalu mengiringi langkahku, berjalan bersamaku. Rasanya tak enak saja kalau tidak memberikan salam padanya.

Entah sejak kapan aku mulai suka menikmati perjalanan. Sepertinya sudah sejak kecil dulu. Aku tidak pernah suka cepat-cepat sampai tujuan. Bagiku setiap perjalanan memiliki kisahnya sendiri. Selalu saja ada kisah yang hadir dari setiap perjalanan. Dulu ketika aku masih les bahasa Inggris di daerah Menteng, aku sering sekali pulang dengan berjalan kaki bersama teman-temanku yang lain. Kebetulan rumah kami searah, menyusuri Menteng hingga Matraman. Pada awalnya kami naik kopaja 502, tapi karena seringnya kopaja tersebut penuh, dan cukup lama juga datangnya, maka kami putuskan untuk berjalan kaki saja. Lama-kelamaan kegiatan pulang dengan berjalan kaki bersama ini menjadi sebuah ritual rutin. Bahkan perjalanan pulang bersama adalah bagian yang paling aku nanti-nantikan ketika ada jadwal masuk les. Bagiku ini adalah salah satu bagian yang tak bisa aku lupakan seumur hidup.

Di perjalanan kami biasa membicarakan tentang kegiatan les bahasa Inggris yang terjadi pada hari itu, membicarakan teman yang baik, yang sombong, yang pintar, yang ini lah, yang itu lah, bahkan sampai urusan pribadi seperti keluarga dan urusan cinta. Meskipun biasanya aku diam saja selama perjalanan, sebenarnya aku sangat senang berjalan dengan mereka. Aku diam karena aku sedang menikmati perjalanan, memandangi canda tawa teman-teman, menguping obrolan antara kopaja dan metro mini yang selalu mengeluh karena kelebihan beban, menyelami orang-orang yang tenggelam dengan dunianya masing-masing. Aku selalu berharap agar kopaja 502 selalu penuh dan jalanan Cikini yang kadang ramai kadang senyap ini menajdi sangat panjang hingga tak ada ujungnya, sehingga kami dapat selalu berjalan bersama. Aku terkadang sedih ketika kami harus berpisah. Itu tandanya perjalananku bersama mereka harus selesai. Meskipun besok-besok masih dapat bertemu lagi, tapi masih saja ada rasa sedih kehilangan. Walau letih, bersama mereka, aku tak ingin cepat-cepat sampai di rumah. Mungkin kedengarannya egois, tapi begitulah faktanya.

Tiiin…tiiin…tiiinn… Mas? Ojek mas?” suara klakson tukang ojek mengganggu nostalgiaku yang tiba-tiba hadir di sela-sela langkahku menyusuri jalan Pramuka.

Enggak bang, makasih,” jawabku menanggapi tawaran tukang ojek. Ketika kulihat jam digital di pinggir jalan, rupanya papan besar tersebut telah menampilkan angka 23:57. Ternyata sudah cukup larut juga. Namun dulu biasanya sebelum aku sampai di jalan Pramuka ini ataupun Matraman, aku beserta teman-teman lesku biasa duduk-duduk di depan RSCM. Kami biasa melepas lelah di situ karena perjalanan jauh yang telah kami tempuh dari Menteng. Di depan RSCM biasanya aku mulai banyak berbicara, berbagi berbagai kisah dengan yang lain. Di depan RSCM pula kami membuat janji bahwa 5 tahun mendatang kami sudah harus mengunjungi negara impian kami masing-masing dan bertemu lagi di depan RSCM ini. Ada yang ingin pergi ke Perancis, Jepang, bahkan Las Vegas. Kalau aku tentu saja ke Italia. Perjalanan menuju Italia pasti sangat panjang dan sulit. Maka dari itu aku akan memulai dari perjalanan-perjalanan yang sederhana dulu untuk bisa akhirnya berjalan menuju Italia.

Sebenarnya tidak hanya berjalan kaki, aku juga menyukai berbagai perjalanan selama aku masih bisa menikmati kisah-kisah perjalanan tersebut. Ketika ada Study Tour saat sekolah dulu, baik SD, SMP, maupun SMA, aku selalu berharap agar perjalanan tersebut memakan waktu lama sehingga tidak cepat sampai tujuan. Begitu juga dengan berbagai perjalanan lainnya, baik itu perjalanan yang diadakan bersama teman-teman kampus, bersama keluarga, bahkan ketika aku sedang berjalan-jalan sendiri. Aku suka berbaur dengan perjalanan. Menyelinap ke dalam kehidupannya. Mengamati kondisi sekitar. Mempelajari ragam hal baru yang hadir di perjalanan.

Kalau disuruh memilih antara kereta atau pesawat, aku akan lebih memilih kereta, meskipun aku belum pernah naik pesawat sekalipun. Saat aku liburan ke Jogja tahun lalu, aku lebih memilh untuk menggunakan kereta sebagai transportasiku ketimbang pesawat terbang. Meskipun banyak orang mengatakan bahwa naik kereta itu kumuh, sesak, dan sejenisnya, tapi hatiku tetap lebih memilih naik kereta. Habisnya kalau aku pikir, naik pesawat Jakarta-Jogja paling-paling hanya satu jam saja. Lalu bagaimana bisa menikmati perjalanan yang sekejap itu. Baru juga duduk, tak lama kemudian sudah turun lagi dari pesawat.

Hanya menggunakan kereta, tepatnya kereta ekonomi aku dapat menjumpai beragam manusia dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda-beda. Waktu itu aku berjumpa dengan seorang pemuda berbadan tegap pada perjalananku ke Jogja. Semula, ia yang lebih dahulu menegurku, “permisi mas. Bisa geser sedikit? Bangku saya nomor 15B di sebelah mas.”

Aku langsung menanggapinya, “oh ya, silahkan. Pulang kampung mas?”

Iya nih. Udah lama gak ketemu orang tua. Udah kangen saya.” Sejenak ia diam, kemudian balik bertanya, “mas juga pulang kampung?”

Ah enggak. Saya cuma liburan. Kebetulan ada om yang tinggal di Jogja.” Kemudian kami saling berkenalan dan bercakap-cakap. Lama-kelamaan percakapan tersebut menjadi semakin panjang, hingga rasanya bagaikan bertemu dengan teman lama yang bertahun-tahun tak jumpa. Kami mulai semakin dekat dan saling bertukar nomor telepon. Bahkan ketika ada tukang kopi yang menjajakkan dagangannya, pemuda itu menraktirku segelas Pop Mie. Seakan semua lupa bahwa kami baru pertama kali bertemu. Perjalanan rupanya dapat mengikatkan tali persaudaraan juga.

Belum lagi ketika ada seorang nenek tua yang membuat kegaduhan di kereta karena berebut kursi dengan penumpang yang ada di sebrang deretan bangkuku. Nenek itu terus kekeuh pada pendiriannya bahwa kursi itu adalah kursi miliknya. Padahal nenek tersebut tidak memiliki bukti karcis bahwa tempat tersebut adalah miliknya. Karcis nenek itu menunjukkan bahwa kursi nenek tersebut sebenarnya adalah di gerbong sebelah. Entah apa yang membuat nenek itu tetap bersikeras. Mungkin saja ia berpikir bahwa sudah kepalang tanggung masuk ke gerbong ini dan sudah menaruh barang-barangnya yang padat merayap di tempat penyimpanan tas, hingga membuat ia segan untuk memindahkannya lagi ke tempat yang lain. Tiba-tiba muncullah rasa iba, akhirnya aku serahkan bangkuku pada nenek tesrsebut, “silahkan nek, duduk saja di sini” aku berdiri sambil menunjuk kursiku. Dan tanpa diduga, pemuda itu pun melakukan hal yang sama denganku, ia ikut berdiri. Akhirnya aku dan pemuda itu duduk di dekat pintu kereta. Ngobrol ngalor-ngidul hingga lelah. Sementara kereta terus melaju tanpa peduli apa yang kami obrolkan.

Tek…tek…tek… Siomay… Siomay… Siomaaayy…” mencium aromanya, perutku pun mulai menggerutu. Aku ingin beli, tapi tanggung. Aku tengok sedikit ke depan, aku lihat ada palang pintu kereta, bergaris warna merah dan putih. Rupanya langkahku telah membawaku hingga ke rel kereta Stasiun Kramat. Sepertinya sudah tidak ada kereta yang melintas lagi malam ini. Desau angin juga telah mengeluarkan suaranya, menjawab salamku yang sejak tadi kulemparkan.

Mobil-mobil sayur telah beberapa kali melintas di sampingku. Mereka menuju Pasar Genjing yang tak jauh di depan sana. Sepertinya mobil-mobil sayur tersebut telah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Tentu banyak juga kisah yang telah dijalani oleh mobil-mobil sayur tersebut selama perjalanan. Sopir-sopirnya terlihat waspada, takut-takut menagntuk dan menabrak sesuatu.

Aku terus saja berjalan sambil senyum-senyum, entah senyum untuk apa, mungkin untuk sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Kemudian di tepi jalan aku melihat ada wanita muda, kira-kira berusia 22 tahunan, sedang sibuk dengan handphone di telinganya. Raut wajahnya seperti orang gelisah. Mungkin ia sedang menelpon kekasih atau keluarganya untuk minta dijemput karena pulang terlalu larut. Itu mungkin hal yang terbaik. Berjalan sendirian malam-malam begini di Jakarta memang cukup berbahaya. Di Jakarta kehidupan sudah semakin keras dan ganas. Teringat Jakarta yang berbahaya, aku selalu teringat potongan lirik dari lagu group band slank, “Jakarta kota yang penuh srigala. Jakarta juga penuh dengan ular-ular.”

Ibuku selalu menyarankan agar aku membawa sepeda motor saja, karena beliau tahu aku selalu berjalan kaki atau naik kendaraan umum kalau berpergian. Tapi aku tidak suka mengendarai motor, “jiwaku bukan jiwa biker” mungkin itu bahasa kerennya. Lagipula aku juga belum punya SIM. Bukannya aku tak mau bikin SIM, tapi aku segan membuatnya karena birokrasinya yang rumit. Selain itu kalau aku naik motor, aku tidak bisa menikmati perjalanan karena harus berkonsentrasi pada jalan agar tidak terjadi tabrakan. Aku lebih suka dengan kondisiku yang sekarang ini. Aku suka perjalanan. Menikmati suasananya. Menghirup alunannya. Berbaur dengan semesta. Aku ingin terus menikmati perjalanan ini, perjalanan hidup yang tak kan pernah berakhir. Perjalanan menuju perjalanan baru.

 
2 Comments

Posted by on August 20, 2013 in Short Story

 

2 responses to “Perjalanan

  1. yundidevo

    September 14, 2013 at 4:24 pm

    ini cerpen ya?. masih agak bingung sih nyari maknanya. sulit paham. tapi nemu intinya satu “Enjoy dengan perjalananmu” gitu aja sih

     
    • sayukelabu

      September 15, 2013 at 3:21 pm

      ayo tebak! cerpen apa bukan hayoo?

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: