RSS

Menyeberang

Image

Sudah dua puluh tahun lebih aku menyeberangi jalan raya besar ini. Jalanan ini selalu diisi dengan berbagai macam kendaraan yang berlalu-lalang tanpa jenuh. Motor, mobil, sepeda, becak, bajaj, truk, traktor, bul dozer, mobil umum, mobil barang, mobil jenazah, mobil baru, mobil bekas, mobil dempulan, dan ragam kendaraan lainnya yang melintasi darat. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Jalan raya ini tak pernah sepi, selalu ada saja kendaraan yang melintas dan selalu ada juga orang-orang yang menyeberang. Sudah terlalu banyak peristiwa dan kejadian yang terekam oleh mata ini selama peristiwa penyeberangan berlangsung.  Banyak orang berpendapat bahwa menyeberang merupakanperistiwa yang biasa saja. Ya, memang menyeberang adalah peristiwa yang biasa, bahkan sangat biasa. Tapi, tahukah kalian bahwa menyeberang dapat menentukan nasib seseorang?

Aku menyeberangi jalan raya ini sudah dari dulu sekali, sejak aku SD. Bahkan ketika aku bersekolah di SMP dan SMA pun aku harus menyeberangi jalan raya ini lagi. Begitu juga ketika aku berkuliah di perguruan tinggi, hingga kini aku bekerja sekarang. Setelah kuperhatikan dengan seksama, ternyata sudah banyak perubahan yang terjadi di jalan raya ini. Meski perubahan-perubahan tersebut dilakukan sedikit demi sedikit, sehingga orang-orang tidak menyadarinya. Dan ketika mereka tersadar, ternyata sudah jauh berubah. Semua berawal dari hal yang kecil dan sederhana. Mula-mula dibuatlah pohon-pohon kecil di setiap pembatas jalan, kemudian didirikan pula jam yang besar untuk mengingatkan waktu, papan-papan iklan, hingga berbagai bendera partai politik yang kadang berkibar kadang diam saja. Namun ada satu hal yang tak pernah berubah di jalan raya ini pada setiap akhir tahun, selalu ada proses pengecatan  trotoar dan zebra cross. Entah apa maksudnya dari pengecatan itu, apakah untuk memperindah jalan karena ingin menyambut tahun baru, apakah untuk memperjelas warna yang telah mulai pudar, atau hanya untuk menghabiskan anggaran pemerintah saja, entahlah.

Rutinitas menyeberang tidak hanya terjadi padaku saja, tapi juga untuk keluargaku, tetangga-tetanggaku, dan untuk semua penduduk yang merasa perlu untuk menyeberang. Kami semua hidup dari menyeberangi jalan raya ini. Semua berawal dari langkah-langkah yang kami jejaki. Langkah-langkah itulah yang kelak akan membawa kami mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Karena pada dasarnya hidup perlu melangkah. Untuk bisa hidup, kita haruslah berani mengambil langkah. Berani menjejakkan langkah di tempat-tempat yang baru.

Urusan seberang menyeberang bagiku bukanlah masalah yang sepele. Sudah dua kali aku kena cium motor ketika sedang menyberang. Yang pertama aku dapatkan ketika aku masih kelas tiga SD. Saat itu aku dan ibuku telah selesai belanja dari supermarket yang ada di seberang jalan raya. Saking asyiknya karena aku baru dibelikan pistol-pistolan oleh ibuku, aku ingin cepat-cepat sampai rumah agar dapat memainkan pistol-pistolan tersebut dengan leluasa. Tanpa tengok kiri kanan, aku langsung saja tancap gas berlari menyeberangi jalan, dan hasilnya? sebuah motor vespa klasik berhasil menciumku. Selepas kejadian itu, aku sangat bersyukur karena yang menabrakku hanyalah sebuah vespa, hingga aku masih bisa bernafas sampai saat ini. Coba bayangkan kalau yang menabrakku itu bis umum atau truk, mungkin tamatlah sudah riwayatku ini.

Selepas kejadian itu, ibuku selalu mewanti-wanti agar aku menyeberang dengan hati-hati dan penuh kesabaran. Sementara, ciumanku yang kedua aku dapatkan dua tahun setelahnya bersama motor bebek tua yang pengendaranya adalah orang tua juga. Peristiwa itu terjadi pada siang hari yang terik saat aku pulang sekolah, aku sudah seperti terdampar di padang pasir. Namun sebisa mungkin, aku harus fokus pada perjalanan pulangku ini agar selamat sampai di seberang jalan sana. Siang itu kendaraan cukup ramai, mobil-mobil berjalan dengan pelan karena memang sedang terjadi kemacetan. Dengan tenang aku melangkah di sela-sela mobil yang besar-besar itu. Namun tanpa diduga ada sebuah motor yang sedang mengebut ditengah sela-sela tersebut. Aku tak menyadarinya karena tertutupi oleh barisan mobil-mobil. Tanpa menunggu lama blamm!!! Terjadilah ciumanku yang kedua. Untunglah di dekat situ ada pangkalan ojek yang abang-abangnya selalu setia memakai jaket tebal setiap hari, tak pandang apakah hari itu panas atau dingin, mereka tetap setia, akhirnya aku langsung dibopong oleh segerombolan tukang ojek ke tempat urut terdekat, dan ayahku yang kebetulan sedang tidak bekerja langsung menjumpaiku di sana setelah mendapat kabar dari salah satu tetangga. Akibat dua peristiwa kecelakaan tersebut, aku memiliki bakat yang unik, yang tak semua orang dapat memilikinya, kini jempol kaki dan tangan kiriku bisa diputar ke berbagai arah. Sepertinya tulangku ada yang bergeser.

Kata siapa menyeberang itu mudah? Menyeberang juga memerlukan keahlian khusus. Ketelitian, kewaspadaan, serta konsentrasi seseorang juga harus berada di tingkat yang paling tinggi ketika sedang menyeberang. Sudah banyak kejadian menghebohkan yang dialami oleh orang-orang ketika sedang menyeberang.

Baru-baru ini, tepatnya tiga hari yang lalu, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ada seorang wanita muda yang tewas akibat tertabrak bis. Waktu itu hari masih pagi, aku sedang menunggu bis yang biasa mengantarku ke tempat kerja. Lalu aku melihat ada seorang wanita muda yang sedang menyeberang sambil membawa telepon genggam dan headset menggantung di telinganya. Aku menduga bahwa wanita itu adalah seorang mahasiswi yang hendak pergi ke kampus. Mungkin ia memiliki kuliah pagi. Pandangannya tak pernah lepas dari telepon genggamnya, seolah-olah ia baru saja menemukan secercah peta harta karun dari dalamnya. Harus kuakui, parasnya memang cukup menarik, badannya langsing, kulitnya putih, dan matanya berkilauan cahaya. Ya, seperti gambaran anak muda masa kini. Namun nahas, nasibnya tak beruntung, seketika seluruh keindahan itu lenyap ketika mendapat sambaran dari sebuah bis kota yang melaju seperti tak punya dosa.

Mungkin karena wanita muda tersebut terlalu asyik dengan dunianya sendiri, dia sampai lupa bahwa di dunia nyata saat itu, dia sedang menyeberang jalan. Wanita muda itu mendapatkan pendarahan yang hebat di bagian kepala. Beberapa orang warga langsung berteriak-teriak sambil bergegas mengerubunginya. Dan seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, para warga tersebut bukannya langsung menolong wanita itu, eh malah sibuk mengeroyok si sopir bis kotatersebut. Sepertinya banyak juga masyarakat Indonesia yang bercita-cita menjadi hakim tapi tak kesampaian, hingga akhirnya mereka main hakim sendiri dengan kebijakannya masing-masing.

“eh, sopir setan!turun lo! Liat tuh yang lo kerjain!” teriak salah seorang warga.

“ii… iiiya bang, ampun bang. Saya bakal tanggung jawab,” si sopir hanya bisa gemetaran dan pasrah.

“kampret lo nyetir ugal-ugalan!”

“udah hajar aja!Bakar bisnya!” teriak warga lainnya.

Sebenarnya aku ingin sekali menolong wanita dan sopir tersebut. Tapi apa daya, bis yang sudah lama kunanti baru saja tiba. Aku tidak ingin ikut tersambar juga pagi ini. Tersambar oleh ocehan bos karena datang terlambat. Tapi aku yakin bahwa akan ada orang yang akan membantu wanita itu. Meski negeri ini orang-orangnya sudah banyak yang amburadul, banyak yang semaunya sendiri, aku percaya bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadap sesama.Seburuk apapun suatu bangsa, pasti masih ada orang baiknya. Meski itu hanya sedikit. Eh benar saja, tak lama bis beranjak dari halte, sudah ada polisi yang datang ke TKP.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, aku selalu terpikir akan kejadian wanita tersebut. Ternyata dunia memang sudah banyak berubah. Seiring dengan berkembangnya teknologi, orang-orang kini terlihat sangat egois. Mereka selalu sibuk dengan dunianya sendiri, sibuk dengan berbagai gadget mereka, hingga mereka lupa dengan keadaan di sekitarnya. Wanita muda itulah salah satunya. Menyeberang merupakan hal yang rumit bukan? Aku tidak bisa menentukan siapa yang salah dari kejadian itu. Tapi yang jelas, sebagai manusia, haruslah kita mengetahui peran kita masing-masing. Kalau sedang menyeberang, ya harus fokus untuk menyeberang. Jangan sibuk dengan dunia sendiri. Padahal sudah banyak orang yang masih mengalami kecelakaan ketika sudah fokus dalam menyeberang. Lah ini, pakai acara main telepon genggam dan ketawa-ketiwi segala. Apa lagi di zaman sekarang ini kendaraan-kendaraan sudah semakin bertambah banyak dan orang-orangnya pun sudah bertambah gila semua. Semuanya ingin buru-buru sampai di tempat tujuan. Sopir-sopir bis kota pun tak ketinggalan menjadi edan. Mereka menyupir seolah-olah mereka adalah raja jalanan. Hanya ada mereka dan jalan raya saja di dunia ini. Tak perlu pedulikan yang lainnya. Kalau ingin merasakan naik roller coaster, tak perlu jauh-jauh datang ke taman hiburan, naik saja bis kota, nanti juga akan kau rasakan sensasinya.

Menyeberang bukan hanya tentang kecelakaan saja, ada juga sisi lainnya. Ternyata menyeberang juga dapat digunakan sebagai peluang usaha. Sering aku melihat banyak orang mencari nafkah dari menyeberang. Ada yang mengamen, berjualan, meminta-minta, bahkan mengojek payung ketika musim hujan tiba. Rupanya bangsa Indonesia ini sangat ahli dalam memanfaatkan peluang. Peluang usaha sekecil apapun pasti bisa dimanfaatkan. Mungkin masyarakat telah banyak membaca buku-buku motivasi dan kiat sukses yang sering dipajang-pajang di toko buku.

Pernah pula suatu kali aku melihat ada sepasang muda-mudi yang sedang menyeberang. Tapi tiba-tiba si laki-laki langsung menghentikan langkahnya di tengah-tengah jalan raya, kemudian memandang si perempuan yang digandengnya, dan akhirnya berteriak keras sekali, “oh Astria, mau kah kau menjadi pacarku? Aku gak akan beranjak dari tempat ini kalau kamu gak menerimaku,” ditanya seperti itu di tengah jalan membuat si perempuan kaget dan sempat terdiam beberapa detik, sampai akhirnya ada bunyi-bunyi klakson yang menyadarkan diamnya. Tanpa pikir panjang si wanita langsung mengatakan dengan suara yamg lantang, “ya, aku mau,” lalu menarik laki-laki itu menjauh dari jalan raya.

Ada-ada saja yang dibuat oleh anak muda zaman sekarang. Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda itu. Dasar bocah edan!!! Tapi mungkin cara itu bisa aku tiru untuk mendapatkan jodoh. Di zaman edan seperti sekarang memang banyak orang yang sudah menjadi edan juga. Menyeberang saja bisa menghasilkan sesuatu yang edan. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, menyeberang dapat menentukan nasib seseorang. Dan jangan lupa perhatikan setiap langkah dalam menyeberang dan di dalam hidup.Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di langkah berikutnya.

 
Leave a comment

Posted by on September 28, 2013 in Uncategorized

 

Perjalanan

Image

Tidak hanya siang hari, udara malam Jakarta juga tidak kalah panasnya. Aku tidak mengerti mengapa Jakarta begitu panas. Baik itu udaranya, suasananya, bahkan kehidupannya, semua terasa begitu panas. Sudah cukup jauh aku menyusuri jalan Pramuka ini yang telah hampir tiap hari kulintasi tanpa jenuh bagiku. Tapi aku tidak tahu apakah jalanan ini jenuh terhadapku. Mungkin saja iya, karena menganggapku hanya satu dari banyak orang yang memanfaatkan jasanya saja. Aku lihat masih banyak kendaraan yang berlalu-lalang meski hari sudah larut, “apakah orang-orang di Jakarta sangat gila bekerja hingga pulang selarut ini?” tanyaku dalam hati. “kalau memang begitu, bagaimana ya nasib keluarganya yang menantikan kehadirannya di rumah?” sementara itu pohon-pohon sudah mengangguk-anggukkan kepalanya, mungkin mereka sudah mulai mengantuk. Lelah mengahadapi kehidupan Jakarta yang semakin menggila.

Jakarta memang kota yang tidak pernah tidur. Selalu saja ada kegiatan yang dilakukan penduduknya entah kapan dan di jam berapa. Angkutan-angkutan umum pun sudah banyak yang bertugas 24 jam. Dari mulai taksi, ojek, bajaj, kopaja, metro mini, bahkan aku dengar-dengar kabar, katanya Bus Trans Jakarta pun akan aktif 24 jam. Hal ini tentu memudahkan masyarakat yang beraktifitas di malam hari. Jadi, kapan pun mau pulang atau pergi, angkutan umum tersebut bersedia mengantar selama orang yang diantar memiliki uang. Kalau kata temanku, “hidup di Jakarta yang penting punya duit bro. selama lo punya duit, semua aman.” Tapi menurutku hal ini juga berbahaya karena tindak kejahatan di malam hari akan semakin meningkat.

Aku sebenarnya bisa saja pulang ke rumah menggunakan kendaraan umum, tapi aku lebih memilih untuk berjalan kaki. Bukan karena kehabisan uang atau sedang menabung untuk beli sepatu, tapi berjalan kaki terasa lebih menyenangkan bagiku. Aku sangat suka menikmati perjalanan. Kalau naik kendaraan, akan lebih cepat sampai tujuan, sedangkan aku belum sempat menikmati perjalanan ini. Memandangi bulan yang tampak sendu di atas sana, membuatku terasa lebih dekat dengannya, memahami apa yang sedang dipikirkannya, walaupun itu hanya dugaanku saja. Tapi setidaknya membuat perasaanku lebih nyaman, karena telah berbagi waktu dengannya. Memberi salam pada angin yang berhembus juga salah satu bagian yang kusukai dari sebuah perjalanan. Angin selalu mengiringi langkahku, berjalan bersamaku. Rasanya tak enak saja kalau tidak memberikan salam padanya.

Entah sejak kapan aku mulai suka menikmati perjalanan. Sepertinya sudah sejak kecil dulu. Aku tidak pernah suka cepat-cepat sampai tujuan. Bagiku setiap perjalanan memiliki kisahnya sendiri. Selalu saja ada kisah yang hadir dari setiap perjalanan. Dulu ketika aku masih les bahasa Inggris di daerah Menteng, aku sering sekali pulang dengan berjalan kaki bersama teman-temanku yang lain. Kebetulan rumah kami searah, menyusuri Menteng hingga Matraman. Pada awalnya kami naik kopaja 502, tapi karena seringnya kopaja tersebut penuh, dan cukup lama juga datangnya, maka kami putuskan untuk berjalan kaki saja. Lama-kelamaan kegiatan pulang dengan berjalan kaki bersama ini menjadi sebuah ritual rutin. Bahkan perjalanan pulang bersama adalah bagian yang paling aku nanti-nantikan ketika ada jadwal masuk les. Bagiku ini adalah salah satu bagian yang tak bisa aku lupakan seumur hidup.

Di perjalanan kami biasa membicarakan tentang kegiatan les bahasa Inggris yang terjadi pada hari itu, membicarakan teman yang baik, yang sombong, yang pintar, yang ini lah, yang itu lah, bahkan sampai urusan pribadi seperti keluarga dan urusan cinta. Meskipun biasanya aku diam saja selama perjalanan, sebenarnya aku sangat senang berjalan dengan mereka. Aku diam karena aku sedang menikmati perjalanan, memandangi canda tawa teman-teman, menguping obrolan antara kopaja dan metro mini yang selalu mengeluh karena kelebihan beban, menyelami orang-orang yang tenggelam dengan dunianya masing-masing. Aku selalu berharap agar kopaja 502 selalu penuh dan jalanan Cikini yang kadang ramai kadang senyap ini menajdi sangat panjang hingga tak ada ujungnya, sehingga kami dapat selalu berjalan bersama. Aku terkadang sedih ketika kami harus berpisah. Itu tandanya perjalananku bersama mereka harus selesai. Meskipun besok-besok masih dapat bertemu lagi, tapi masih saja ada rasa sedih kehilangan. Walau letih, bersama mereka, aku tak ingin cepat-cepat sampai di rumah. Mungkin kedengarannya egois, tapi begitulah faktanya.

Tiiin…tiiin…tiiinn… Mas? Ojek mas?” suara klakson tukang ojek mengganggu nostalgiaku yang tiba-tiba hadir di sela-sela langkahku menyusuri jalan Pramuka.

Enggak bang, makasih,” jawabku menanggapi tawaran tukang ojek. Ketika kulihat jam digital di pinggir jalan, rupanya papan besar tersebut telah menampilkan angka 23:57. Ternyata sudah cukup larut juga. Namun dulu biasanya sebelum aku sampai di jalan Pramuka ini ataupun Matraman, aku beserta teman-teman lesku biasa duduk-duduk di depan RSCM. Kami biasa melepas lelah di situ karena perjalanan jauh yang telah kami tempuh dari Menteng. Di depan RSCM biasanya aku mulai banyak berbicara, berbagi berbagai kisah dengan yang lain. Di depan RSCM pula kami membuat janji bahwa 5 tahun mendatang kami sudah harus mengunjungi negara impian kami masing-masing dan bertemu lagi di depan RSCM ini. Ada yang ingin pergi ke Perancis, Jepang, bahkan Las Vegas. Kalau aku tentu saja ke Italia. Perjalanan menuju Italia pasti sangat panjang dan sulit. Maka dari itu aku akan memulai dari perjalanan-perjalanan yang sederhana dulu untuk bisa akhirnya berjalan menuju Italia.

Sebenarnya tidak hanya berjalan kaki, aku juga menyukai berbagai perjalanan selama aku masih bisa menikmati kisah-kisah perjalanan tersebut. Ketika ada Study Tour saat sekolah dulu, baik SD, SMP, maupun SMA, aku selalu berharap agar perjalanan tersebut memakan waktu lama sehingga tidak cepat sampai tujuan. Begitu juga dengan berbagai perjalanan lainnya, baik itu perjalanan yang diadakan bersama teman-teman kampus, bersama keluarga, bahkan ketika aku sedang berjalan-jalan sendiri. Aku suka berbaur dengan perjalanan. Menyelinap ke dalam kehidupannya. Mengamati kondisi sekitar. Mempelajari ragam hal baru yang hadir di perjalanan.

Kalau disuruh memilih antara kereta atau pesawat, aku akan lebih memilih kereta, meskipun aku belum pernah naik pesawat sekalipun. Saat aku liburan ke Jogja tahun lalu, aku lebih memilh untuk menggunakan kereta sebagai transportasiku ketimbang pesawat terbang. Meskipun banyak orang mengatakan bahwa naik kereta itu kumuh, sesak, dan sejenisnya, tapi hatiku tetap lebih memilih naik kereta. Habisnya kalau aku pikir, naik pesawat Jakarta-Jogja paling-paling hanya satu jam saja. Lalu bagaimana bisa menikmati perjalanan yang sekejap itu. Baru juga duduk, tak lama kemudian sudah turun lagi dari pesawat.

Hanya menggunakan kereta, tepatnya kereta ekonomi aku dapat menjumpai beragam manusia dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda-beda. Waktu itu aku berjumpa dengan seorang pemuda berbadan tegap pada perjalananku ke Jogja. Semula, ia yang lebih dahulu menegurku, “permisi mas. Bisa geser sedikit? Bangku saya nomor 15B di sebelah mas.”

Aku langsung menanggapinya, “oh ya, silahkan. Pulang kampung mas?”

Iya nih. Udah lama gak ketemu orang tua. Udah kangen saya.” Sejenak ia diam, kemudian balik bertanya, “mas juga pulang kampung?”

Ah enggak. Saya cuma liburan. Kebetulan ada om yang tinggal di Jogja.” Kemudian kami saling berkenalan dan bercakap-cakap. Lama-kelamaan percakapan tersebut menjadi semakin panjang, hingga rasanya bagaikan bertemu dengan teman lama yang bertahun-tahun tak jumpa. Kami mulai semakin dekat dan saling bertukar nomor telepon. Bahkan ketika ada tukang kopi yang menjajakkan dagangannya, pemuda itu menraktirku segelas Pop Mie. Seakan semua lupa bahwa kami baru pertama kali bertemu. Perjalanan rupanya dapat mengikatkan tali persaudaraan juga.

Belum lagi ketika ada seorang nenek tua yang membuat kegaduhan di kereta karena berebut kursi dengan penumpang yang ada di sebrang deretan bangkuku. Nenek itu terus kekeuh pada pendiriannya bahwa kursi itu adalah kursi miliknya. Padahal nenek tersebut tidak memiliki bukti karcis bahwa tempat tersebut adalah miliknya. Karcis nenek itu menunjukkan bahwa kursi nenek tersebut sebenarnya adalah di gerbong sebelah. Entah apa yang membuat nenek itu tetap bersikeras. Mungkin saja ia berpikir bahwa sudah kepalang tanggung masuk ke gerbong ini dan sudah menaruh barang-barangnya yang padat merayap di tempat penyimpanan tas, hingga membuat ia segan untuk memindahkannya lagi ke tempat yang lain. Tiba-tiba muncullah rasa iba, akhirnya aku serahkan bangkuku pada nenek tesrsebut, “silahkan nek, duduk saja di sini” aku berdiri sambil menunjuk kursiku. Dan tanpa diduga, pemuda itu pun melakukan hal yang sama denganku, ia ikut berdiri. Akhirnya aku dan pemuda itu duduk di dekat pintu kereta. Ngobrol ngalor-ngidul hingga lelah. Sementara kereta terus melaju tanpa peduli apa yang kami obrolkan.

Tek…tek…tek… Siomay… Siomay… Siomaaayy…” mencium aromanya, perutku pun mulai menggerutu. Aku ingin beli, tapi tanggung. Aku tengok sedikit ke depan, aku lihat ada palang pintu kereta, bergaris warna merah dan putih. Rupanya langkahku telah membawaku hingga ke rel kereta Stasiun Kramat. Sepertinya sudah tidak ada kereta yang melintas lagi malam ini. Desau angin juga telah mengeluarkan suaranya, menjawab salamku yang sejak tadi kulemparkan.

Mobil-mobil sayur telah beberapa kali melintas di sampingku. Mereka menuju Pasar Genjing yang tak jauh di depan sana. Sepertinya mobil-mobil sayur tersebut telah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Tentu banyak juga kisah yang telah dijalani oleh mobil-mobil sayur tersebut selama perjalanan. Sopir-sopirnya terlihat waspada, takut-takut menagntuk dan menabrak sesuatu.

Aku terus saja berjalan sambil senyum-senyum, entah senyum untuk apa, mungkin untuk sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Kemudian di tepi jalan aku melihat ada wanita muda, kira-kira berusia 22 tahunan, sedang sibuk dengan handphone di telinganya. Raut wajahnya seperti orang gelisah. Mungkin ia sedang menelpon kekasih atau keluarganya untuk minta dijemput karena pulang terlalu larut. Itu mungkin hal yang terbaik. Berjalan sendirian malam-malam begini di Jakarta memang cukup berbahaya. Di Jakarta kehidupan sudah semakin keras dan ganas. Teringat Jakarta yang berbahaya, aku selalu teringat potongan lirik dari lagu group band slank, “Jakarta kota yang penuh srigala. Jakarta juga penuh dengan ular-ular.”

Ibuku selalu menyarankan agar aku membawa sepeda motor saja, karena beliau tahu aku selalu berjalan kaki atau naik kendaraan umum kalau berpergian. Tapi aku tidak suka mengendarai motor, “jiwaku bukan jiwa biker” mungkin itu bahasa kerennya. Lagipula aku juga belum punya SIM. Bukannya aku tak mau bikin SIM, tapi aku segan membuatnya karena birokrasinya yang rumit. Selain itu kalau aku naik motor, aku tidak bisa menikmati perjalanan karena harus berkonsentrasi pada jalan agar tidak terjadi tabrakan. Aku lebih suka dengan kondisiku yang sekarang ini. Aku suka perjalanan. Menikmati suasananya. Menghirup alunannya. Berbaur dengan semesta. Aku ingin terus menikmati perjalanan ini, perjalanan hidup yang tak kan pernah berakhir. Perjalanan menuju perjalanan baru.

 
2 Comments

Posted by on August 20, 2013 in Short Story

 

RANCANGAN PENELITIAN KARAKTER TOKOH UTAMA DALAM NOVEL PULANG KARYA LEILA S. CHUDORI

Image

1. Latar Belakang Masalah

Karya sastra adalah sebuah cerminan dari kehidupan nyata yang diciptakan berdasarkan hasil ekspresi pikiran, perasaan, ide, dan pengalaman yang dimiliki oleh si pengarang. Hal ini sejalan dengan pendapat Suharianto (1982:4) yang menyatakan bahwa karya sastra adalah pengungkapan hidup dan kehidupan yang dipadu dengan imajinasi dan kreasi pengarang serta dukungan pengalaman dan pengamatan atas kehidupan.

Karya sastra lahir bertujuan untuk menghibur atau menyenangkan dan bermanfaat bagi penikmat sastra. Menyenangkan artinya memberikan kesenangan yang positif yang mampu memperkaya rohani, sedangkan bermanfaat adalah mampu menjadikan manusia lebih arif atau bijaksana dalam menghadapi kehidupan.

Umumnya terdapat tiga jenis karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama. Karya sastra prosa dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu novel, cerpen, roman, biografi, kritik sastra, dan lainya. Sebagai salah satu bentuk karya sastra prosa fiksi adalah novel. Novel merupakan hasil imajinasi pengarangya. Dalam novel, seorang pengarang dapat menuangkan kehidupan tokoh dari segi jasmani, rohani, dan kejiwaan sesuai dengan keinginan pengarang.

Ada beberapa unsur pembangun novel yang menentukan jalan cerita, salah satu unsurnya adalah tokoh dan penokohan yang di dalamnya termasuk perwatakan dan karakter tokoh. Dalam hal ini Semi (1993:83) menyatakan bahwa pembaca akan mengetahui gambaran watak dan falsafat hidup tokohnya melalui karakter yang ada. Karakter yang berbeda-beda dari setiap tokoh itulah yang akan mempengaruhi jalan ceritanya. Semi (1993:34) juga menyatakan bahwa tokoh merupakan ide sentral dari awal sampai akhir suatu cerita. Selanjutnya, Tarigan (1984:149) mengemukakan bahwa untuk menampilkan tokoh dalam suatu cerita, cara yang paling baik adalah melalui tindakan-tindakan. Dikatakan juga oleh Suharianto (1982:31) bahwa melaui penokohan itulah pembaca dapat dengan jelas menangkap wujud manusia dari kehidupanya yang diceritakan pengarang.

Tokoh dalam sebuah novel merupakan hal yang sangat penting, karena melalui tokoh lah cerita bermula, berjalan, dan juga berakhir. Alur perjalanan sebuah cerita tidak lepas dari adanya tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Semakin menarik tokoh dalam suatu cerita, maka akan menarik pula lah cerita tersebut.

Tokoh-tokoh yang unik dan menarik dapat dilihat contohnya dalam novel Pulang kaya Leila S. Chudori. Dalam novel tersebut diceritakan tentang Dimas Suryo, beserta teman-temannya yang mengalami pergolakan, tidak hanya fisiknya saja, tetapi juga batinnya. Hal tersebut diakrenakan Dimas Suryo dan teman-temannya adalah seorang eksil politik Indonesia yang terlibat dalam peristiwa bersejarah 30 September 1965, sehingga mereka diasingkan ke negeri lain, dan tidak bisa kembali ke Indonesia. Bila mereka tetap memaksa untuk kembali, mereka akan ditangkap dan ditahan oleh pemerintah Indonesia. Hal tersebut juga akan membahayakan keluarga mereka yang masih ada dan sedang bersembunyi di Indonesia. Di sisi lain,kawan-kawan Dimas yang juga terlibat dalam peristiwa 30 September tersebut dan masih berada di Indonesia sudah ditangkap-tangkapi oleh pemerintah satu per satu dan tidak ada kabarnya lagi. Perang batin pun selalu berkecamuk dalam diri Dimas Suryo dan teman-temannya. Mereka harus menumpang tinggal di negeri orang entah sampai kapan, sementara kondisi negerinya sendiri masih berkecamuk. Dimas dan teman-temannya menetap dan tinggal di Paris, Prancis. Mereka menetap, hidup, dan berkeluarga di Paris hingga suatu ketika Lintang Utara, putri Dimas Suryo dari pernikahannya dengan Vivienne Deveraux, seorang wanita Prancis, mencoba mencari jati dirinya. Segala macam pertanyaan berkecamuk dalam hati dan pikirannya. Lintang seorang keturunan Prancis-Indonesia, tapi ia tidak tahu tentang Indonesia sama sekali. Lintang ingin sekali mengunjungi tanah kelahiran ayahnya, Indonesia, tapi tidak bisa, karena ada peraturan yang melarang itu.

Novel Pulang karya Leila S. Chudori merupakan novel yang menarik untuk membahas tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pergolakan yang terjadi dalam hati, pikiran, hingga kondisi sosial tokoh-tokoh dalam novel tersebut bercampur baur menajdi satu kesatuan yang kompleks. Keunikan karakter tokoh-tokoh dalam dalam novel Pulang inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti lebih lanjut novel tersebut. Selain itu konflik tokoh yang terdapat dalam novel ini Pulang tersebut berbeda dari kebanyakan novel-novel lain. Hal tersebut juga menjadi faktor yang membuat peneliti ingin membahas novel tersebut lebih dalam lagi.

2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah karakter tokoh dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori?
  2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi  karakter tokoh dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori?
  3. Apa saja dampak yang dihasilkan dari karakter tokoh dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori?

3. Tujuan Penelitian

  1. Mendeskripsikan karakter tokoh dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori.
  2. Mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi  karakter tokoh dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori.
  1. Mengungkapkan dampak yang dihasilkan dari karakter tokoh dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori

4. Landasan Teori

1. Teori Penokohan Menurut Nurgiyantoro

Istilah tokoh merujuk pada orangnya, pelaku cerita. Watak, perwatakan, dan karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Seperti yang dikatakan Jones dalam Nurgiyantoro (2007:165) penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang digambarkan dalam cerita.

Stanton dalam Nurgiyantoro (2007:165) mengemukakan bahwa penggunaan istilah “karakter” (character) sendiri dalam berbagai literatur bahasa Inggris menyarankan pada dua pengertian yang berbeda, yaitu sebagai tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan dan sebagai sikap, ketrtarikan, keinginan emosi, dan prinsip moral yang dimiliki oleh tokoh-tokoh tersebut.

Untuk kasus kepribadian seorang tokoh, pemaknaan dapat dilakukan berdasarkan kata-kata (verbal) dan tingkah laku (non-verbal). Pembedaan antara tokoh yang satu dengan yang lain lebih ditentukan oleh kualitas pribadi daripada dilihat secara fisik.

2. Teori Karakterisasi Melalui Penampilan Tokoh

Menurut Albertine Minderop (2005:10) dalam kehidupan sehari-hari kita kerap kali terkecoh oleh penampilan seseorang, bahkan tertipu oleh penampilan seseorang. Demikian pula dalam suatu karya sastra, faktor penampilan para tokoh memegang peranan penting sehubungan telaah karakterisasi. Penampilan tokoh yang dimaksud misalnya pakaian apa yang dikenakannya atau bagaimana ekspresinya.

Rincian penampilan memperlihatkan kepada pembaca tentang usia, kondisi fisik, atau kesehatan, dan tingkat kesejahteraan si tokoh.  Sesungguhnya perwatakan tokoh melalui penampilan tidak dapat disangkal, terkait pula kondisi psikologis tokoh dalam cerita rekaan.

3. Teori Strukturalisme

Strukturalisme adalah studi tentang bagaimana mengapresiasikan sastra yang lebih menitikberatkan pada pendekatan objektif. Sastra bersifat otonom yang artinya sebuah karya sastra dapat memberikan makna pada unsur-unsurnya sendiri (Waluyo, 1990:109). Analisis struktural terhadap karya sastra merupakan suatu sistem kerja analisis untuk membongkar dan memaparkan secara cermat teliti, detai, dan sedalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh.

Analisis struktural merupakan prioritas utama sebelum diterapkannya analisis yang lain tanpa analisis struktural tersebut kebulatan makna intrinsik yang dapat digali dari karya tersebut tidak dapat ditangkap. Makna unsur-unsur arya sastra hanya dapat ditangkap dipahami sepenuhnya atas daar pemahaman tempat dan fungsi unsur itu di dalam keseluruhan karya sastra (A. Teeuw, 1982:16).

4. Pendekatan Psikologi Sastra

Psikologi sastra adalah suatu disiplin yang mengandung suatu karya satra yang memuat peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh yang imajiner yang ada di dalam atau mungkin diperankan oleh tokoh-tokoh faktual. Hal ini merangsang untuk mengetahui lebih jauh tentang seluk beluk manusia yang beraneka ragam (Sangidu, 2004: 30).

Tujuan psikologi sastra adalah untuk memeahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam karya sastra. Penelitian psikologi sastra yang dilakukan dengan dua cara. Cara yang pertama melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian diadakan analisis terhadap karya sastra. Kedua dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian kemudian ditentukan teori – teori psikologi yang dianggap rekaan untuk melakukan.

5. Teori Kepribadian Sigmund Freud

Teori kepribadian yang diungkapkan oleh Sigmund Freud terkenal dengan nama psikoanalisis. Dalam teori ini, kepribadian dipandang sebagai sebuah struktur yang terdiri dari tiga struktur atau sistem, yaitu Id, Ego dan Superego. Koswara (1991: 32-340) menjelaskan tingkah laku manusia tidak lain merupakan produk interaksi antara id, ego, dan superego. Id dalam istilah Freud (Das es) adalah sistem kepribadian yang paling dasar yang di dalamnya terdapat naluri – naluri bawah. Id bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem – sistem tersebut untuk operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Ego (dalam istilah Freud Das Ich) adalah sistem yang bertindak sebagai pengarah individu kepada dunia objek dari kenyataan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan (The Reality Principle) ego terbentuk dari diferensial dari id karena kontaknya dengan dunia nyata. Ego memainkan peran dengan melibatkan fungsi psikologis yang tinggi , yakni fungsi kognitif dan intelektual. Tugas ego adalah mempertahankan kepribadian dan menjalin penyesuaian dengan dunia luar. Superego (dalam istilah Freud Das Uber Ich) adalah sistem kepribadian yang berisi nilai dan aturan yang sifatnya evaluatif. Superego merupakan hasil proses internalisasi sejauh larangan dan perintah yang tadinya asing (bagi sujekdianggap berasal dari subjek itu sendiri).

5. Objek Penelitian

Objek peneletian ini adalah novel Pulang karya Leila S. Chudori yang di terbitkan pada tahun 2012 oleh penerbit KPG, Jakarta, dengan tebal 460 halaman.

6. Simpulan

7. Saran

1. Saran kepada pembaca karya sastra

Novel Pulang karya Leila S. Chudori ini merupakan novel yang syarat akan informasi dan nilai-nilai sosial. Para pembaca karya sastra sebaiknya membaca novel ini untuk menambah wawasan.

2. Saran kepada peneliti lain

Untuk peneliti lain, penelitian ini hanya membahas tentang karakter tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Jadi, masih banyak bahasan yang dapat diteliti dalam novel ini. Peneliti lain sebaiknya terus meningkatkan penelitian secara lebih mendalam.

DAFTAR PUSTAKA

Koswara, Endra. 1991. Teori – Teori Kepribadian. Bandung: Gresco

Nurgiyantoro, Burhan. 1994. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada

Semi, Atar. 1993. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya

Suharianto, S. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widyaduta

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa

Teeuw, A. 1982. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya

 
Leave a comment

Posted by on July 30, 2013 in Research

 

Kajian Hermeneutik Puisi “Kucari Jawab” Karya J. E. Tatengkeng

Image

ABSTRAK

Artikel ini berjudul “Mengkaji dan Menganalisis Puisi Kucari Jawab Menggunakan Pendekatan  Hermeneutik”  Judul ini dipilih  dengan berlandaskan atas analisis puisi yang dilakukan melalui pendekatan  hermeneutik. Rumusan masalah dalam analisis ini adalah  bagaimana mengkaji hubungan antara makna dari simbol-simbol yang ada pada teks sastra dengan hal di luar sastra seperti sejarah, kenyataan, dan sebagainya. Suatu karya seni dalam hal ini puisi merupakan kumpulan simbol-simbol (kata-kata) yang memiliki makna di dalamnya sebagai hasil jepretan kejadian-kejadian di luar sastra. Melalui kajian hermeneutik ini diharapkan dapat mengungkap makna dibalik rangkaian simbol-simbol dalam puisi ini.

Berdasarkan hasil penelitian dengan pendekatan hermeneutik, puisi  Kucari Jawab karya J.E. Tatengkeng ditemukan kaitannya antara simbol-simbol yang terdapat dalam puisi tersebut dengan kejadian-kejadian di luar sastra.

1. Pendahuluan

Pemahaman puisi dapat ditinjau dari beberapa aspek. Hal ini tergantung pada isi puisi yang  ingin dibahas. Kehadiran puisi pada umumnya memang untuk dinikmati oleh para pembaca, tetapi kehadiran puisi juga tidak terlepas dari makna simbol-simbol (kata-kata) yang terkandung dalam puisi tersebut serta hubungannya dengan hal-hal atau kejadian-kejadian di luar sastra. Oleh karena itu, puisi perlu ditinjau dari segi hermeneutik atau keterkaitkan antara simbol-simbol yang terkandung dalam sebuah karya sastra dengan hal-hal yang ada di luar sastra.

Memahami atau menganalisis puisi pada hakikatnya adalah membaca kehidupan. Karena puisi dapat mencerminkan suatu corak kehidupan masyarakat pada suatu masa, dan mampu menjelaskan harkat dan martabat manusia secara utuh, serta berisikan masalah kehidupan yang universal. Dalam puisi “Kucari Jawab” karya J.E. Tatengkeng, dimana isi puisi tersebut menjadi objek kajiannyabila dipandang dari unsur hermeneutik, penulis akan mencoba mengkaji puisi tersebut  dilihat dari unsur hermeneutiknya.

2. Landasan Teori

Secara historis hermenika berasal dari mitologi Yunani, yang berasal dari seorang tokoh mitologis yang bernama Hermes yakni seorang utusan yang mempunyai tugas sebagai perantara atau penghubung antara dewa jupiter dengan manusia. Pada intinya ia menyampaikan pesan dari dewa Jupiter kepada manusia. Hermes dilukiskan sebagai seorang yang mempunyai kaki bersayap dan lebih banyak dikenal dengan sebutan Merkurius dalam bahasa latin. Tugas Hermes adalah menginterpretasikan pesan-pesan dari dewa Jupiter di gunung olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh umat manusia. Oleh sebab itulah fungsi Hermes disini sangat penting dan vital sekali karena kalau terjadi kesalahan pemehaman tentang pesan-pesan dewa tersebut akibatnya akan fatal bagi manusia. Hermes harus mampu menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang digunakan oleh penuturnya. Kalau diasosiasikan secara sekilas hermeneutik dengan hermes, menunjukan akhirnya pada tiga unsur yang akhirnya menjadi variabel utama pada kegiatan manusia dalam memahami dan membuat interpretasi terhadap berbagai hal yakni:

  1. Tanda, pesan atau teks yang menjadi sumber atau bahan dalam penafsiran yang diasosiasikan dengan pesan pesan yang dibawa Hermes dari dewa Jupiter di gunung Olimpus tadi.
  2. Perantara atau penafsir (Hermes).
  3. Penyampaian pesan itu oleh sang perantara agar bisa dipahami dan sampai kepada yang menerima.

Hermeneutik menegaskan bahwa manusia Autentik selalu dilihat dalam kontek ruang (Lokus) dan waktu (Tempos) dimana manusia sendiri mengalami dan menghayatinya. untuk memahami dasein (Manusia oautentik), kita tidak bisa lepas dari konteks yang ada, sebab itu kalau dilihat dari luar konteksnya yang nampak ialah manusia semu yang artifesial atau hanya buatan saja. Manusia autentik hanya bisa dimengerti atau dipahami dalam ruang dan waktu yang persis dimana ia berada. dengan kata lain setiap individu selalu tersituasikan dan benar-benar dapat dipahami di dalam situasinya.

Hermenetik menurut pandangan kritik sastra ialah Sebuah metode untuk memahami teks yang diuraikan dan diperuntukkan bagi penelaahan teks karya sastra. Hermenetik cocok untuk membaca karya sastra karena dalam kajian sastra, apa pun bentuknya, berkaitan dengan suatu aktivitas yakni interpretasi (penafsiran). Kegiatan apresiasi sastra dan kritik sastra, pada awal dan akhirnya, bersangkutpaut dengan karya sastra yang harus diinterpretasi dan dimaknai. Semua kegiatan kajian sastra, terutama dalam prosesnya, pasti melibatkan peranan konsep hermeneutik. Oleh karena itu, hermeneutik menjadi hal dan prinsip yang tidak mungkin diabaikan. Atas dasar itulah hermeneutik perlu diperbincangkan secara komprehensif guna memperoleh pemahaman yang memadai. Dalam hubungan ini, mula-mula perlu disadari bahwa interpretasi dan pemaknaan tidak diarahkan pada suatu proses yang hanya menyentuh permukaan karya sastra, tetapi yang mampu “menembus kedalaman makna” yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, interpreter (si penafsir) mesti memiliki wawasan bahasa, sastra, dan budaya yang cukup luas dan mendalam. Berhasil-tidaknya interpreter untuk mencapai taraf interpretasi yang optimal, sangat bergantung pada kecermatan dan ketajaman interpreter itu sendiri. Selain itu, tentu saja dibutuhkan metode pemahaman yang memadai; metode pemahaman yang mendukung merupakan satu syarat yang harus dimiliki interpreter. Dari beberapa alternatif yang ditawarkan para ahli sastra dalam memahami karya sastra, metode pemahaman hermeneutika dapat dipandang sebagai metode yang paling memadai.

Karya sastra dalam pandangan hermeneutik ialah sebagai objek yang perlu di interprestasikan oleh subjek (hermeneutik). Subjek dan objek tersebut adalah term-term yang korelatif atau saling bertransformasi satu sama lain yang sifatnya merupakan hubungan timbal balik. Tanpa adanya subjek, tidak akan objek. Sebuah benda menjadi objek karena kearifan subjek yang menaruh perhatiaan pada subjek itu. Arti atau makna diberikan kepada objek oleh subjek, sesuai dengan pandangan subjek. Hussrel menyatakan bahwa objek dan makna tidak akan pernah terjadi secara serentak atau bersama-sama, sebab pada mulanya objek itu netral. Meskipun arti dan makna muncul sesudah objek atau objek menurunkan maknanya atas dasr situasi objek, semuanya adalah sama saja. Maka dari sinilah karya sastra dipandang sebagai lahan (objek) untuk ditelaah oleh hermeneutic supaya muncul interpretasi pemahaman dalam teks karya satra tersebut.

Bahasa dalam pandangan Hermeneutic sebagai medium yang tanpa batas, yang membawa segala sesuatu yang ada didalamnya, termasuk karya sastra yang menjadi objek kajiaannya. Hermenetik harus bisa bergaul dan berkomunikasi dengan baik dengan bahasa supaya tercipta transformasi di dalamnya terutama dalam membedah teks karya sastra.

3. Pembahasan

Puisi yang akan dikaji dengan menggunakan pendekatan hermeneutik adalah :

Kucari Jawab

Di mata air, di dasar kolam,

kucari jawab teka-teki alam.

 

Di kawan awan kian kemari,

di situ juga jawab kucari.

 

Kepada gunung penjara waktu,

kucari jawab kebenaran tentu.

 

Ke dalam hati, jiwa sendiri,

Kuselam jawab, tidak tercari. . .

 

Ya, Allah yang maha dalam,

Berikanlah jawab teka-teki alam.

                    

O, Tuhan yang maha tinggi,

Kunanti jawab petang dan pagi.

 

Hatiku haus’kan kebenaran,

Berikan jawab di hatiku sekarang. . .

3.1. Biografi Penyair

J.E. Tatengkeng atau lengkapnya Jan Engelbert Tatengkeng adalah penyair Pujangga Baru. Ia biasa dipanggil Oom Jan oleh orang-orang dekatnya, panggilan yang lazim di kalangan masyarakat Sulawesi Utara. Tatengkeng memang merupakan salah satu famili dari propinsi itu. Oom Jan ini dilahirkan di Kolongan, Sangihe, Sulawesi Utara, pada tanggal 19 Oktober 1907.

J.E. Tatengkeng adalah satu-satunya penyair zaman Pujangga Baru yang membawa warna kekristenan dalam karya-karyanya. Hal ini tidaklah ganjil jika ditelusuri latar belakang kehidupannya. Ia adalah putra dari seorang guru Injil yang juga merupakan kepala sekolah zending. Di samping itu, tanah kelahirannya, tempat ia dibesarkan oleh orang tuanya, adalah sebuah pulau kecil di timur laut Sulawesi yang konon masyarakatnya hampir seluruhnya beragama Kristen.

J.E. Tatengkeng memulai pendidikannya di sebuah sekolah Belanda, HIS, di Manganitu. Ia kemudian meneruskannya ke Christelijk Middagkweekscool atau Sekolah Pendidikan Guru Kristen di Bandung, Jawa Barat dan Christelijk Hogere Kweekschool atau Sekolah Menengah Tinggi Pendidikan Guru Kristen di Solo, Jawa Tengah.

Di sekolah-sekolah itulah J.E. Tatengkeng mulai berkenalan dengan kesusastraan Belanda dan gerakan Tachtigers “Angkatan 80-an”, yang kemudian banyak mempengaruhi karya-karyanya. Meskipun banyak dipengaruhi Angkatan 80-an Belanda, J.E. Tatengkeng ternyata juga tidak sependapat dengan Jacques Perk yang mempertaruhkan seni dalai segala-galanya. Dalam sebuah tulisannya, “Penyelidikan dan Pengakuan (1935), Tatengkeng menulis, “Kita tidak boleh menjadikan seni itu Allah. Akan tetapi, sebaliknya, janganlah kita menjadikan seni itu alat semata-mata. Seni harus tinggal seni.”

Bagi Tatengkeng, seni adalah gerakan sukma, “Gerakan sukma yang menjelma ke indah kata! Itulah seni bahasa!,” katanya. Sebagai penyair, J.E. Tatengkeng dikenal sebagai penyair yang dekat dengan alam. Konon, kedekatan Tatengkeng dengan alam itu timbul sebagai akibat kekecewaannya karena tidak dapat menemukan kebenaran di dunia barat yang masih alami.

Meskipun alam merupakan pelariannya dalam usaha menemukan kebenaran, alam baginya tetap merupakan misteri. Di kawanan awan, di warna bunga yang kembang, pada gunung, dan pada bintang, tetap saja Tatengkeng belum merasa berhasil menemukan kebenaran hakiki. Oleh karena itu, setelah jiwanya lelah mencari kebenaran hakiki, ia menjadikan Tuhan sebagai tempatnya berlabuh. Gelombang kehidupan Tatengkeng itu tergambar pada sebagian besar sajak-sajaknya. Tentu saja sajak-sajaknya yang religius itu bernafaskan ke-Kristenan, agama yang dianutnya.

Sejak tahun 1953, J.E. Tatengkeng mulai jarang menulis. Akan tetapi, krativitasnya sebagai penyair tidak pernah hilang meskipun ia bergiat dalam bidang politik dan pemerintahan. Hal itu dibuktikan dengan beberapa sajaknya yang dimuat pada beberapa majalah setelah tahun 1953.

J.E Tatengkeng meninggal pada tanggal 6 Maret 1968 dan dikebumikan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.

3.2. Analisis Hermeneutik

Setiap karya sastra, terutama puisi pasti memiliki makna yang terkandung di balik simbol-simbol (kata-kata) yang digunakan pada puisi tersebut. Dan dari setiap simbol-simbol yang terdapat pada setiap puisi pasti memiliki kejadian atau hal-hal yang melatarbelakangi sehingga karya sastra tersebut dapat tercipta. Hal-hal atau kejadian tersebut biasanya berasal dari luar sastra, seperti sejarah, kenyataan dan sebagainya. Begitu pun yang terjadi pada puisi yang berjudul “Kucari Jawab” karya J.E. Tatengkeng ini.

Pendekatan hermeneutik menghendaki penafsiran, sehingga makna puisi sudah pasti dipengaruhi persepsi pengetahuan dan pengalaman setiap pembaca, faktor lingkungan pembaca, perspektif atau bia dimensi kepentingan pembaca, dan hal-hal lain yang berasal dari faktor ekstrinsik puisi.

Pencarian arti secara heuristik tersebut baru menjelaskan arti kebahasan puisi objek kajian. Makna puisinya harus dicari dengan pembacaan hermeneutik, pembacaan yang diberi tafsiran sesuai dengan tata aturan sastra sebagai sistem semiotik.

Sejak awal membaca puisi “Kucari Jawab” karya J.E. Tatengkeng ini pasti para pembaca langsung menyadari bahwa makna yang terkandung dalam puisi tersebut adalah tentang kisah perjalanan hidup J.E. Tatengekeng dalam upaya mencari jawaban dan kebenaran dalam hidup. Hal ini dapat terlihat dengan cukup jelas karena J.E. Tatengkeng menyampaikannya secara lugas.

Untuk lebih jelasnya, saya akan menganalisis puisi J.E. Tatengkeng ini bait demi bait.

Di mata air, di dasar kolam,

kucari jawab teka-teki alam.

(bait 1)

Pada bait pertama tersebut, Oom Jan mencoba untuk mencari jawab atas teka-teki yang diberikan oleh alam. Oom Jan berpendapat bahwaterdapat kesalahan dalam hidup ini, dan Oom Jan mencoba mencari jawaban untuk sebuah kebenaran dari hidup ini. Alam merupakan simbol dari kehidupan, karena kita hidup di dunia ini tak terlepas dari yang namanya alam. Karena alam memberikan kehidupan itu lah, maka Oom Jan mencoba mencari jawaban dari alam. Berharap alam akan memberikannya jawaban seperti alam memberinya kehidupan. Kemudian di alam, Oom Jan mencoba mencari jawabannya di mata air dan di dasar kolam. Itu karena mata air perlambang sebuah sumber. Ia berharap akan mendapat jawabannya dari sumber tersebut. Sedangkan dasar kolam merupakan hal yang penuh misteri, itu dikarenakan sebuah dasar biasanya menyimpan suatu yang sangat berharga. Seperti contohnya di dasar laut menyimpan harta karun. Oom Jan berharap kalau ia mencari jawabannya sampai ke dasar, pasti akan menemukan sesuatu.

Di kawan awan kian kemari,

di situ juga jawab kucari.

(bait 2)

Setelah Oom Jan mencari sebuah jawaban akan kebenaran hingga ke dasar, Oom Jan juga mencoba mencari jawaban tersebut di angkasa. Ia coba mencarinya di antara awan beserta kawananya (kumpulan awan). Berharap akan menemukan jawabannya di sana. Awan merupakan lambang dari sesuatu yang tinggi, yang sulit digapai. Itu mengapa Oom Jan berusaha mencarinya di tempat yang sulit dicapai orang. Berharap jawabannya berada di sana. Karena biasanya sesuatu yang sulit dicari itu pastilah terdapat di tempat yang sulit dijangkau oleh orang banyak.

Kepada gunung penjara waktu,

kucari jawab kebenaran tentu.

(bait 3)

Setelah mencari di tempat yang paling rendah hingga yang paling tinggi dari alam, Oom Jan masih mencari jawaban atas kebenaran tersebut di tempat yang lain, yakni di gunung. Gunung merupakan simbol dari sebuah misteri. Karena setiap gunung pasti memiliki misterinya masing-masing. Contohnya saja tentang keluarnya lahar panas dari dalam perut gunung yang selama ini dikira sudah tidak aktif lagi. tentu saja itu merupakan sebuah misteri yang besar. Belum lagi misteri-misteri lainnya yang terdapat pada gunung. Selain itu gunung juga ibarat sebagai penjara waktu. Hal ini karena pada saat di gunung, manusia bahkan tidak mengetahui sudah berapa lama yang dihabiskannya di sana. Seolah-olah waktu tak terasa berlalu. Seperti orang yang bersemedi di gunung. Walaupun sudah bersemedi selama bertahun-tahun, namun karena pergi ke gunung diibaratkan sebagai bersatu dengan alam, maka berapa banyak waktu yang dihabiskan pun tidak terasa. Maka dari itu Oom Jan mencoba mencarinya ke gunung. Berharap di tempat yang memiliki banyak misteri, terdapat jawaban akan sebuah kebenaran.

Ke dalam hati, jiwa sendiri,

Kuselam jawab, tidak tercari. . .

(bait 4)

Setelah menyusuri tempat yang paling dasar, tempat yang paling tinggi, hingga tempat yang penuh dengan misteri, Oom Jan masih belum dapat menemukan jawaban yang dicarinya. Kemudian Oom Jan mencoba mencarinya ke dalam hati dan jiwanya sendiri. Hati dan jiwa perlambang dari hidup manusia itu sendiri. Karena biasanya hal yang tak dapat ditemukan di manapun, justru sebenarnya terletak pada diri manusia itu sendiri, namun terkadang manusia tidak menyadarinya. Akhirnya Oom Jan pun merenung, mencoba menyelami (memahami) dirinya sendiri. Dalam diri sendiri lah biasanya harta atau sesuatu yang selalu dicari-cari oleh kita terpendam. Karena sebenarnya hati dan jiwa kita telah diberikan kekayaan yang berlimpah oleh Sang Pencipta. Namun sayang, dalam hati dan jiwanya sendiri pun Oom Jan masih belum menemukan jawabannya.

Ya, Allah yang maha dalam,

Berikanlah jawab teka-teki alam.

(bait 5)

Setelah Oom Jan berusaha mencari jawaban ke berbagai pelosok tempat dan tak mendapatkan hasil apa pun. Maka Oom Jan tersadar bahwa tak ada yang tempat yang lebih baik untuk mencari sebuah kebenaran, selain kembali meminta kepada Sang Pencipta. Karena Allah adalah zat yang maha mengetahui segalanya. Allah yang maha dalam melambangkan bahwa Allah adalah zat yang sebenar-benarnya mengetahui kedalaman apa pun. Kedalaman akan hati manusia, kedalaman akan jawaban, dan kedalaman akan kebenaran.         

O, Tuhan yang maha tinggi,

Kunanti jawab petang dan pagi.

(bait 6)

Selain itu Allah juga merupakan zat yang maha tinggi. Allah dapat mengetahui dan menguasai segala hal yang terjadi di dunia ini. Tinggi memiliki lambang yang sangat banyak. Tinggi bisa perlambang akan kekuasaan, perlambang pemilik, perlambang pencipta, perlambang yang paling agung. Maka dari itu Oom Jan selalu menanti jawaban dari Allah yang maha tinggi, yang maha menguasai. Oom Jan selalu menunggu setiap hari, baik itu saat petang maupun pagi.

Hatiku haus’kan kebenaran,

Berikan jawab di hatiku sekarang. . .

(bait 7)

Pada bait ketujuh ini, Oom Jan semakin ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Haus merupakan perlambang dari sesuatu yang sudah tidak tahan lagi. Harus segera diberikan sesuatu pada rasa haus tersebut agar tidak risau dan gundah gulana lagi. dalam hal ini Oom Jan meminta sebuah kebenaran agar hatinya tidak risau dan gundah gulana lagi. Oom Jan sudah tidak sabar untuk meminta Allah memberikan jawabannya sejarang juga agar hatinya tentram.

4. Kesimpulan

          Melalui pendekatan hermeneutik, penulis dapat memahami makna dari puisi “Kucari Jawab” karya J.E. Tatengkeng  yang merupakan  kisah perjalanan J.E. Tatengkeng dalam upaya mencari sebuah jawaban akan kebenaran dalam hidup ini. Dalam puisi ini pula terlihat bahwa sebuah kata dapat memiliki makna yang beragam. Makna yang dapat menjadi lambang bagi sesuatu yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Esten, Mursal. 1995. Memahami Puisi. Bandung: Angkasa.

http://filsafat.kompasiana.com/2011/06/20/teori-hermeneutik-dalam-karya-sastra/

http://asiaaudiovisualrb09susilo.wordpress.com/biografi-penyair-indonesia/biografi-j-e-tatengkeng/

Tim Estetika Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta. 2008. Estetika Sastra, Seni dan Budaya. Jakarta: UNJ Press.

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2013 in Research

 

Semua Tentang Ci(n)ta

Perguruan Tinggi, sebuah nama yang cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Perguruan tinggi pada saat ini telah menjadi tujuan wajib bagi pelajar di Indonesia. Hal ini sebenarnya merupakan hal yang sangat baik bagi negeri Indonesia, karena sudah banyak masyarakatnya yang sadar akan pentingnya pendidikan. Perguruan tinggi di Indonesia pun kini sudah banyak dan dapat dijumpai di kota-kota seluruh Indonesia, dari mulai yang paling barat di ujung Sumatera hingga yang paling timur di Papua. Belum lagi semakin banyaknya perguruan tinggi swasta yang mulai menjamur di mana-mana. Tentunya hal tersebut bukan suatu kendala lagi bagi masyarakat yang ingin menuntut ilmu hingga ke perguruan tinggi.

Image

UI, ITB, UGM, Unpad, serta Undip merupakan segelintir perguruan tinggi negeri yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Jelas saja, perguruan-perguruan tinggi tersebut telah memiliki segudang prestasi dan nama baik di Indonesia maupun di mancanegara. Namun sayang, banyak masyarakat Indonesia yang masuk ke pergururan tinggi besar di atas lebih disebabkan karena adanya gengsi. Jelas saja kuliah di Universitas Indonesia lebih bergengsi ketimbang kuliah di Universitas Negeri Jakarta ataupun di perguruan tinggi swasta lain. Tapi, apakah cukup menuntut ilmu kalau hanya mengandalkan gengsi saja? Memang, hidup di zaman sekarang ini penuh dengan gengsi, tapi gengsi bukanlah segalanya. Masih banyak faktor lain yang lebih layak dipertimbangkan ketimbang gengsi.

Perguruan tinggi pada dasarnya hanyalah batu lompatan untuk kita melompat lebih tinggi lagi. Di manapun kita menuntut ilmu sebenarnya tidak begitu menjadi masalah. Karena yang terpenting dalam meneuntut ilmu adalah kitanya (orangnya, manusianya, pelakunya). Semuanya tergantung kepada pribadi masing-masing. Apakah kita dapat menempatkan diri pada sebuah lingkungan atau tidak. Namun, semua itu kembali lagi pada niat awal kita, karena niatlah yang menentukan segalanya. Bahkan dalam hadis Arbain yang paling pertama disebutkan adalah tentang niat. Hadis tersebut berbunyi, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” Apabila kita berniat masuk ke perguruan tinggi untuk menuntut ilmu, maka akan kita dapatlah ilmu tersebut. Dan apabila kita berniat masuk ke perguruang tinggi karena sebuah gengsi, makaakan didapat pula lah gengsi tersebut.

Gengsi rupanya juga telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Buktinya tidak hanya dalam menentukan perguruan tinggi saja kita memikirkan gengsi, tapi dalam menentukan jurusan kuliah pun kita terkadang masih memikirkan gengsi. Ini sebenarnya hal yang lucu sekali bukan? Kenapa dalam memilih jurusan kuliah yang dipikirkan adalah gengsi dan bukannya minat atau kemampuan?

Di zaman yang sudah berkembang pesat sekarang ini, telah banyak menghasilkan berbagai penemuan dan juga inovasi baru, tak terkecuali dalam dunia ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan kini semakin berkembang sehingga menghasilkan cabang-cabang ilmu baru. Kalau pada zaman Yunani kuno dulu, orang-orang seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles menguasai berbagai cabang ilmu sekaligus, seperti ilmu humaniora, sastra, sains, metafisika, dan sebagainya. Maka rasanya di zaman sekarang, hal tersebut dianggap sangatlah sulit, karena ilmu pengetahuan semakin berkembang sehingga memunculkan berbagai cabang ilmu baru yang lebih spesifik. Pada saat ini untuk menguasai satu bidang ilmu tertentu saja sudah sangat sulit dan membutuhkan waktu yang lama.

Cabang-cabang ilmu yang selalu berkembang tersebut kini hadir dalam berbagai jurusan di perguruan tinggi. Namun sayang, masyarakat Indonesia memilih jurusan di perguruan tinggi bukan berdasarkan pada minatnya atau kemampuannya, tapi lebih mengacu pada gengsi dan iming-iming jaminan masa depan. Memang, tidak ada salahnya mempertimbangkan masa depan. Tapi janganlah iming-iming jaminan masa depan tersebut diajadikan gengsi yang harus dipenuhi. Sehingga niat utamanya berubah, bukan lagi karena ilmu, pendidikan, ataupun cinta, tapi karena gengsi. Bukankah lebih menarik kalau kita mempelajari dan menekuni bidang yang kita cintai? Dengan begitu kita bisa total melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut, karena tidak ada dorongan ataupun paksaan dari pihak manapun. Semua itu kita kerjakan dengan senang hati.

Image

Pada masa ini jurusan-jurusan seperti kedokteran, akuntansi, hukum, dan hubungan internasional merupakan segelintir jurusan yang memiliki gengsi tinggi dan memiliki jaminan masa depan yang dianggap cerah. Sementara jurusan seperti ilmu sejarah, antropologi, dan bahasa Indonesia dianggap sebagai jurusan yang biasa-biasa saja dan kurang bergengsi. Padahal itu semua belum tentu benar. Belum tentu mahasiswa yang berkuliah di jurusan kedokteran, hukum, dan jurusan bergengsi lainnya memiliki masa depan cerah. Dan belum tentu juga mahasiswa yang berkuliah di jurusan ilmu sejarah dan bahasa Indonesia memiliki masa depan yang suram. Semuanya kembali lagi pada individunya masing-masing. Apabila individu tersebut menikmati apa yang dikerjakannya, maka pekerjaannya akan total dan tentu saja akan memberikan hasil yang terbaik. Apalagi kalau pekerejaannya tersebut benar-benar dikuasai, tak mustahil ia akan menjadi master atau ahli di bidang tersebut. Namun, apabila kita masuk ke jurusan yang dianggap bagus lebih dikarenkan gengsi, tapi kita tidak minat dan tidak ahli di bidang tersebut, tentu saja hasil yang diberikan pun tidak maksimal. Yang paling terbaik adalah kita melakukan sesuatu berdasarkan pada apa yang kita cintai, dengan begitu kita akan dengan sepenuh hati melakukan pekerjaan tersebut. Dengan cinta kita dapat menggapai cita.

Image   Image

Sebenarnya jalan untuk menuju sukses sangatlah beragam, begitu bervariasi, dan penuh warna. Kampus dan kuliah bukanlah satu-satunya jalan. Ia hanyalah satu dari banyak batu lompatan untuk membantu melompat lebih tinggi. Mungkin banyak di antara kita yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi karena tersangkut masalah biaya, keluarga, waktu, dan sebagainya. Tapi itu semua bukanlah kendala yang tidak dapat diselesaikan. Pepatah kuno menyebutkan bahwa banyak jalan menuju Roma. Hal ini tentu juga berarti banyak jalan menuju sukses. Bahkan banyak orang-orang sukses yang sengaja keluar dari kampusnya untuk mengejar mimpinya. Tokoh Lintang dalam novel Laskar Pelangi dan tokoh Baso dalam novel Negeri 5 Menara tentu segelintir tokoh yang putus sekolah dan masih bias sukses menggapai mimpinya. Jadi janganlah beranggapan kalau tidak bisa berkuliah, maka dunia ini seolah-olah menghujatmu. Itu sangatlah berlebihan. Karena yang terpenting adalah niat dan cinta kita. Kalau kita sudah memiliki niat yang kuat, serta cinta terhadap apa yang dikerjakan, tentu cita bukanlah hal mustahil untuk digapai.

Terkadang manusia terlalu takut. Terlalu takut akan sebuah kegagalan, terlalu takut mencoba hal yang baru, terlalu takut mengecewakan orang yang dicintai. Sebenarnya hidup ini adalah sebuah tantangan dan perjuangan. Kita terlahir ke dunia ini pun penuh dengan perjuangan dan tantangan, baik itu dialami oleh ibu kita, ayah kita, bahkan oleh kita sendiri. Itu semua melalui hal yang panjang. Jadi mengapa saat ini kita menjadi penakut?

Image

Sebenarnya sederhana saja untuk menjalani hidup ini, find your passion and follow it. Hidup ini hanya sekali dan jangan pernah sia-siakan itu. Apa yang membuat sesuatu menjadi sangat berharga? Karena sesuatu tersebut terbatas. Apa yang membuat senja terasa sangat indah? Karena senja memiliki batasan waktu. Begitu juga hidup. Hidup ini memiliki batas waktu. Sekarang tinggal tergantung kepada individunya, apa yang akan ia lakukan dalam waktu yang terbatas ini. Apakah ia akan berani untuk menikmati hidup ini? Atau tetap di tempat dan hidup dalam berbagai kekhawatiran?

Hidup ini jangan terlalu dibuat-buat seperti di film-film. Buatlah hidupmu sendiri. Ini hidupmu, ini ceritamu. Dan jangan pernah takut juga untuk berani beda dari yang lain. Cerita yang berbeda dari yang lain bukankah lebih berkesan

Salah seorang guru saya, beliau bernama Taufiq Effendi http://blindtaufiqeffendi.com/ pernah berkata, “kampus adalah bandara kita untuk terbang ke negara-negara impian kita. Tapi bandara tanpa pesawat tak berarti apa-apa. Kita tidak bisa sampai ke tujuan kita. Nah, sementara itu, jurusan kuliah adalah pesawatnya untuk mengantarkan kita ke tempat-tempat impian kita. Semua orang dari bandara di Jakarta, Bandung, Medan, Padang, Manado, Ternate, di daerah mana pun di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, bisa sampai ke kota impian mereka jika mereka naik pesawat. Jadi yang paling penting adalah apa yang sangat ingin kita pelajari. Fokus dulu untuk yang satu ini. Jika kita pilih bukan dari hati yang ikhlas dan senang, kita akan menemukan banyak tantangan yang sulit kita perjuangkan. misalnya, kita asal pilih dan kita diterima. begitu kuliah, kita gak suka dan gak bisa ngikutin, maka kita akan kesulitan memperjuangkan apa yang sudah kita bangun.” Jadi intinya love what you do and do what you love.

 
4 Comments

Posted by on July 9, 2013 in Uncategorized

 
 
Design a site like this with WordPress.com
Get started